Renita Oktavia

I read so I write

September 10, 2019

Bolehkah Menambah Nama Suami di Belakang Nama Istri?

Bismillah

Ada suatu fenomena menarik di kalangan sebagian kaum Muslimin. Apa itu? Para wanita yang telah menikah, menambahkan nama suami tepat di belakang nama istri. Pernah menjumpai hal tersebut?

Maksudnya gimana, nih?

Misal, ada wanita bernama Zainab. Ia kemudian menikah dengan seorang laki-laki bernama Zein. Nah, Zainab ini menambahkan nama “Zein” tepat di belakang namanya, sehingga berubah menjadi “Zainab Zein”.

Dampak Meniru Tradisi Barat

Ada sebagian Muslimah yang menisbatkan nama suami di belakang nama mereka. Kalau ditanya tujuannya apa? Konon katanya sih sebagai bukti cinta dan kasih sayang pada pasangannya. Awww … padahal bukti cinta yang paling nyata itu ada di sini.

Tanpa mereka sadari, membubuhkan nama suami di belakang nama istri, dalam hukum Islam, sangat terlarang. Bahkan bertentangan dengan syariat.

Inilah bahayanya meniru budaya yang bertentangan dengan syariat Islam. Mereka begitu terpukau dengan budaya Barat.

Hukum Menambahkan Nama Suami di Belakang Nama Istri

Ustadz Arifin Badri hafidzahullah dalam salah satu rubrik di konsultasi syariah mengatakan bahwa menambahkan nama suami di belakang nama istri tersebut tidak boleh. Mengapa? Karena itu budaya orang Barat yang menyelisihi aturan nasab dalam Islam.

Hukum Islam sangat jelas, bahwa hanya boleh menambahkan nama ayah di belakang nama laki-laki atau perempuan. Apa tujuannya? Sebagai bentuk penghormatan kepada orang tua.

Bayangkan, seorang ayah yang bersusah payah mencari nafkah halal untuk istri dan anak-anak. Ayah-lah yang menjaga dan melindungi keluarganya. Ia juga dimintai pertanggungjawaban yang amat berat atas keluarganya, tetapi anak-anak perempuannya menisbatkan diri mereka pada para suami. Di manakah letak penghormatan kepada sang ayah?

Ada hadis yang berisi ancaman keras bagi orang yang memilih nasab orang lain daripada nasab ayahnya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barang siapa yang mengaku sebagai anak kepada selain bapaknya atau menisbatkan dirinya kepada yang bukan walinya, maka baginya laknat Allah, Malaikat, dan segenap manusia. Pada hari Kiamat nanti, Allah tidak akan menerima darinya ibadah yang wajib maupun yang Sunnah”. (HR. Muslim dan Tirmidzi)

Nah, kebiasaan meniru orang kafir ini perlu dihindari. Karena dalam sebuah hadits disebutkan bahwa barangsiapa yang meniru kebiasaan suatu kaum maka ia termasuk bagian dari mereka (HR. Abu Dawud, Hasan).

Lalu, bagaimana jika menggunakan panggilan seperti Ibu Ahmad?

Jika hanya sekedar panggilan, misal Aisyah menikah dengan laki-laki bernama Ahmad dan ia dipanggil “Ibu Ahmad”, maka hal ini tidak masalah. Mengapa? Karena tidak mengganti nama orang tuanya. Yang tidak boleh itu jika namanya berubah menjadi “Aisyah Ahmad”.

Hikmah

Bukti cinta itu tidak selamanya harus menambahkan nama suami, kok, dears. Dan bagi para suami, tidak perlu berbangga diri jika istri memakai nama kalian. Mengapa? Karena saat akad nikah, semua orang tahu siapa pasangan kita, jadi tidak perlu ada penisbatan nama kepada suami.

Lagipula, antara suami istri tidak ada hubungan darah, jadi mengapa harus menisbatkan diri pada suami? Bisa jadi, sang suami kelak akan meninggal atau seorang istri bercerai dengan suaminya, istrinya pun akan menikah dengan laki-laki lain. Lalu apakah ia akan terus mengganti nama belakangnya dengan nama setiap lelaki yang menikahinya? Tidak masuk akal, kan?

Nah, jika ada yang mau menikah atau pun yang sudah menikah lalu menambahkan nama suami di belakang nama kalian, mulai sekarang udahan ya. Jangan menambahkan nama suami.

Semoga bermanfaat, ya.

Barakallahu fiik

Referensi:

1. konsultasisyariah[dot]com

2. islamqa[dot]info

SHARE:
Adab, Aqidah 7 Replies to “Bolehkah Menambah Nama Suami di Belakang Nama Istri?”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

7 thoughts on “Bolehkah Menambah Nama Suami di Belakang Nama Istri?

    Author’s gravatar

    Alhamdulillah. Semoga Alloh senantiasa memberkahi kita . Aamiin

    Gini Kak, soal contoh Zainab Zein ini, pernah ku baca dari sumber lainnya, itu tidak termasuk ke haram .
    Yang haram itu kan menisbatkanya ya . Mungkin kalau Zainab Binti Zein padahal Zein tidak sedarah dengan Zainab maka itu jelas Haram.

    Apakah betul seperti itu menurut penelusuran Kakak setelah baca komentar ini ?

    Jazakillah khoir

      Author’s gravatar

      Hehehe pasti gak baca sampai selesai.

      Saya ngasih contohnya adalah Zainab menikah dengan Zein. Lalu Zainab menambah namanya menjadi Zainab Zein, nah ini yang tidak boleh. Tapi berbeda ketika si Zainab dipanggil “Nyonya Zein” karena hanya sekedar panggilan, bukan penisbatan.

        Author’s gravatar

        hehe. bukan begitu kak, saya perjelas … Kakak kan bilang “Saya ngasih contohnya adalah Zainab menikah dengan Zein. Lalu Zainab menambah namanya menjadi Zainab Zein, nah ini yang tidak boleh” setahuku ini termasuk diperbolehkan, yang bakal jadi tidak boleh adalah Zainab binti Zein ada penggunaan kata Bintinya itu Kak.

        nah bagaimana dengan itu ?

    Author’s gravatar

    Asyiap. . berbeda itu sesuatu.

    Bisa indah jika kita menatanya dengan baik.
    Bisa rumit jika kita acuh terhadap kesamaan.

    Nanti kita tanya ke Mas Anang . Hehe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *