September 7, 2019

Debu Riba dalam Transaksi Jual Beli Uang Receh Menjelang Lebaran

Bismillah

Di Indonesia, memberi hadiah uang lebaran kepada anak-anak, sudah menjadi tradisi turun temurun yang dilakukan oleh kaum Muslimin. Tradisi ini termasuk tradisi yang baik karena memberi kebahagiaan kepada kaum Muslimin, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Maka, tidak mengherankan jika kemudian banyak orang mulai menukar sejumlah uang dengan nominal yang lebih kecil, untuk memudahkan bagi-bagi uang tersebut. Sebagian orang ada yang menukarkan uangnya di bank-bank konvensional. Sedangkan sebagian lagi, memilih menggunakan jasa penukaran uang receh yang biasanya sering kita jumpai di pinggir-pinggir jalan.

Sulitnya mendapatkan uang receh dalam jumlah besar membuat beberapa orang tertarik dengan bisnis ini. Namun, sayangnya bisnis ini termasuk riba, dan syariat melarangnya. Mengapa riba? Karena khusus untuk jasa jual beli uang receh di pinggir jalan, biasanya untuk setiap penukaran uang dengan nominal 100 ribu, akan dikenakan jasa tambahan 10%-25%, atau berkisar 10.000 – 25.000 rupiah.

Hukum Riba

Al-Qur’an telah jelas menyatakan bahwa Allah mengharamkan riba. Allah berfirman dalam QS. Al Baqarah ayat 275:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba …”

Dan Allah berjanji akan memasukkan pelaku riba ke dalam neraka kekal selamanya. Dalilnya bisa kita temui dalam QS. Al Baqarah ayat 275 di atas. Selain itu, pelaku riba akan diperangi oleh Allah dan Rasul-Nya (silakan baca QS. Al Baqarah ayat 278-279).

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga memerintahkan agar seorang Muslim menjauhi riba karena riba termasuk salah satu dari tujuh dosa besar.

“Dosa riba terdiri dari 72 pintu. Dosa riba yang paling ringan adalah bagaikan laki-laki yang menzinai ibu kandungnya.” (HR. Thabrani)

Dampak Riba

Sesuatu yang telah diharamkan Allah, tentu berdampak buruk terhadap manusia. Allah tidak mungkin melarang sesuatu yang berguna bagi hamba-Nya.

Dampak buruk riba, di antaranya adalah:

1. Membuat pelakunya memiliki sifat kikir atau tamak terhadap harta. Bahkan bisa sampai pada tahap pemuja harta.

2. Riba menghalangi manusia untuk giat berusaha.

3. Riba menjadi penyebab utama terjadinya inflasi

4. Riba menghambat lajunya pertumbuhan ekonomi

5. Riba menciptakan kesenjangan sosial

6. Riba menjadi faktor utama terjadinha krisis ekonomi global

Jual Beli Uang Receh Termasuk Riba

Kalau kita mau jujur, praktik jual beli uang receh yang biasa kita temui di pinggir jalan, ada nilai lebihnya. Misal, kita mau menukar uang 100 ribu dengan nominal 1000-an dengan harga 120 ribu. Ada nilai lebih kan di situ? Nah, nilai lebih inilah yang dinamakan riba.

Kaidah fiqih-nya adalah:

1. Apabila terjadi tukar menukar barang ribawi, maka harus sama dan tunai. Dan jika ditukar dengan barang yang tidak sejenis, maka wajib tunai.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Emas ditukar dengan emas, perak ditukar dengan perak, gandum ditukar dengan gandum, Sya’ir (salah satu jenis gandum) ditukar dengan Sya’ir, kurma ditukar dengan kurma, garam ditukar dengan garam, haruslah sama ukuran dan takarannya serta tunai. Apabila jenisnya berbeda, ukurannya juga boleh berbeda dengan syarat tunai.” (HR. Muslim)

2. Setiap pinjaman yang memberikan manfaat/ keuntungan adalah riba.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Siapa menambah atau meminta tambahan, maka ia telah melakukan transaksi riba. Baik yang mengambil maupun yang memberinya sama-sama berada dalam dosa.” (HR. Muslim)

Uang, dalam hal ini, termasuk barang ribawi. Bagaimana penjelasannya? Para ulama sepakat bahwa barang ribawi dibagi menjadi dua kelompok:

Kelompok 1

Emas dan perak. Termasuk di dalamnya mata uang, karena mempunyai nilai tukar.

Kelompok 2

Kurma, gandum, gandum jenis murah dan garam. Ini adalah semua bahan makanan yang bisa disimpan.

Kembali ke laptop.

Rupiah yang ditukar dengan rupiah, karena barangnya sejenis, sesuai dengan kaidah, maka wajib sama dan tunai. Dan jika ada tambahan, maka hukumnya termasuk riba.

Jelas sampai di sini ya?

Bagaimana biar tidak terjadi riba ketika tukar menukar rupiah?

> Tukar menukarnya harus sama, baik nilai maupun jumlahnya. Uang 100 ribu selembar ditukar dengan uang 1000-an sebanyak 100 lembar.

Lalu, adakah solusinya? Ada.

Solusi Agar Jual Beli Uang Receh Tidak Termasuk Riba

Solusinya dengan melakukan dua kali transaksi:

1. Menukar uang 100 ribu satu lembar dengan uang nominal 1000 sebanyak 100 lembar.

2. Memberi upah atas jasanya, misal 5000 rupiah di transaksi kedua.

3. Besarnya fee upah ini harus sama di setiap transaksi. Tidak boleh misalnya kalau tukar 100 ribu, fee nya 5000. Tukar 200 ribu, fee nya 10.000. Tujuannya apa? Agar tidak terjadi kecurangan karena transaksi yang kedua masih ada hubungannya dengan transaksi yang pertama.

Adakah solusi lain? Ada

Yaitu dengan menukarkan uang dengan yang senilai di bank agar lebih aman.

—-

Mungkin ada yang bertanya, bagaimana jika keduanya rida? Setiap transaksi yang melanggar syariat, hukumnya haram. Meskipun penjual dan pembeli rida. Jual beli khamr dan narkoba, hukumnya tetap saja haram meskipun pelakunya saling ridha.

Ada juga mungkin yang berpendapat bahwa kelebihan 10%-25% sebagai upah si penjual uang receh karena ia telah menukar di bank.
>> Ini bukan alasan yang tepat. Karena pada saat transaksi jual beli tersebut, si pembeli tidak mempekerjakan si penjual untuk menukar uang di bank. Yang terjadi adalah tukar menukar uang dengan uang. Dan indikasi pemberian upah, bukan didasarkan pada nominal uang yang ditukar, tapi pada volume kerjanya.

Contoh:

Pak Bambang meminta Mukidi menukarkan uang sejumlah 2 juta ke bank. Untuk itu, Mukidi diberi upah 50 ribu. Berapa pun banyaknya uang yang ditukarkan Mukidi ke bank, entah itu 2 juta, 5 juta, ia tetap mendapat upah flat 50 ribu. Upah Mukidi ini berdasarkan volume kerja dia.

Sedangkan jual beli uang receh ini, harus ada kelebihan 10 ribu atau 5 ribu. Ini bukan upah, tapi riba.

Jika dulu kita belum tahu hukumnya, segeralah bertaubat dan jangan diulangi lagi. Dan untuk pembelajaran ke depan, alangkah baiknya jika jauh-jauh hari sebelum Ramadan, kita sudah menukar uang di bank.

Wallahu a’lam

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiik

Photo credit:

unsplash.com/ Josh Appel

SHARE:
Fiqih 0 Replies to “Debu Riba dalam Transaksi Jual Beli Uang Receh Menjelang Lebaran”