September 5, 2019

Jurus Mendidik Anak Sesuai Syariat Islam

Bismillah

Saya menuliskan ini, bukan berarti saya ahli parenting. Saya masih dalam tahap belajar dan ingin berbagi agar kita sebagai orang tua tidak terlena dengan dunia. Bukankah belajar itu sampai ke liang lahat?

Mendidik anak sesuai syari’at Islam ternyata ada jurusnya; ada ilmunya. Para ulama Salaf memotivasi untuk memiliki ilmu sebelum beramal. Ini adalah peringatan bagi diri saya pribadi bahwa mendidik anak itu harus sesuai dengan apa yang Allah dan Rasul-Nya perintahkan.

1. Diperlukan ilmu dalam mendidik anak.

Bayangkan, kalau saat ini kita bekerja, apapun pekerjaan kita, entah itu dokter, guru, sopir, kita membutuhkan ilmu. Kita berusaha sekuat tenaga mengejar ilmu tersebut. Lalu bagaimana dengan mendidik anak? Mengapa sebagian dari kita enggan menuntut ilmu dalam rangka mendidik anak? Ilmu tentang mendidik anak jauh lebih besar dan lebih penting daripada ilmu pekerjaan kita.

Mendidik anak berarti menyiapkan generasi dan peradaban maha dahsyat. Lalu mengapa kita bersantai-santai?

Ilmu apa saja yang harus kita kuasai dalam mendidik anak?

a. Ilmu aqidah.

Jika mendambakan anak yang lurus aqidahnya, pastikan aqidah kita pun telah lurus sesuai Al-Qur’an dan Sunnah.

b. Ilmu ibadah, terutama ilmu tentang salat.

Sangat aneh sekali kalau kita menginginkan anak kita rajin salat tapi kita sendiri salat-nya bolong-bolong dan tidak sesuai dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka, kita butuh ilmu ibadah ini.

c. Ilmu akhlaq,

Miliki ilmu akhlaq ini dengan sangat baik. Manusia tidak akan menyukai orang yang buruk akhlaq-nya sekalipun ia seorang ahli ibadah.

d. Seni berinteraksi dengan anak,

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mencontohkan bagaimana Beliau berinteraksi dengan anak kecil. Kita pun sebagai orangtua harus mencontoh Beliau. Kita bisa pula membaca buku-buku psikologi anak, terutama yang diambil dari sumber-sumber Islam.

2. Perlunya kesalehan orangtua dalam mendidik anak.

Siapa yang tidak ingin anak-anaknya saleh dan salehah? Tentu semua orangtua menginginkan buah hati mereka tumbuh menjadi pribadi yang saleh.

Namun, adilkah jika kita sebagai orang tua menuntut anak kita menjadi anak saleh sementara diri kita sendiri jauh dari kata “saleh”? Think about it, dear parents.

3. Keikhlasan dalam mendidik anak.

Ruh segala macam ibadah dan amalan adalah ikhlas. Apa maksudnya ikhlas dalam mendidik anak?

“Saya ikhlas kok mendidik anak. Saya rela waktu saya terbuang hanya untuk menemani anak-anak bermain”

“Saya ikhlas mendidik anak. Uang saya habis untuk menyekolahkan mereka ke sekolah terbaik di dunia”

Apakah yang demikian?

Ikhlas dalam mendidik anak maksudnya adalah kita tanamkan dalam pikiran dan hati kita bahwa semua yang kita lakukan dalam mendidik anak, segala jerih payah kita itu untuk mendapatkan ridaa dari Allah semata dan bukan untuk mendapat sanjungan atau pujian dari manusia.

Bahwa ikhlas mendidik anak adalah menjadikan mereka sebagai investasi akhirat dan bukan investasi dunia semata.

Ada kan di zaman sekarang, orang tua yang mati-matian mendidik anaknya hanya untuk mendapat pengakuan dan sanjungan dari lingkungan. Betapa banyak pula orang tua yang membesarkan anaknya hanya dengan harapan agar kelak sang anak membantu finansial mereka belaka. Hingga jika harapan mereka tak sesuai kenyataan, mereka akan mengungkit betapa tidak sedikit rupiah yang telah mereka keluarkan untuk sang anak.

Keikhlasan mendidik anak ini akan membuat segalanya terasa ringan, anak mudah menerima nasehat, mudah diatur dan yang paling penting adalah anak akan merasa diperhatikan.

Mari, kita luruskan kembali niat kita dalam mendidik buah hati kita.

4. Sabar

Sabar dalam mendidik anak ini meliputi beberapa hal, yaitu:

a. Sabar dalam membiasakan perilaku baik kepada anak.

Perilaku buruk itu sangat mudah diajarkan. Kita tinggal mencontohkan lalu anak akan langsung menyerap ilmu tersebut dan mempraktekkannya. Lain halnya dengan perilaku baik, sekali pun kita telah mencontohkannya berulang kali, kita perlu membiasakan anak.

Contoh:

Membiasakan anak untuk duduk ketika makan.

Saya awalnya merasa kesulitan membuat ‘Aashim terbiasa duduk ketika makan. Dulu setiap kali makan, ia akan jalan ke sana kemari. Tapi alhamdulillah, ia mulai tahu kalau saatnya makan, ia harus duduk. Kalau sudah selesai makan, boleh bermain lagi.

b. Sabar dalam menghadapi dan menjawab pertanyaan anak.

Akan tiba saatnya bagi anak kita, ia akan begitu cerewet dan bertanya berbagai hal yang ia jumpai. Terkadang ada sebagian orang tua yang merasa risih dan menganggapnya sepele.

Tahukah, Sobat? Ketika anak banyak bertanya kepada kita, tandanya ia percaya penuh kepada kita sebagai orang tua. Ia merasa nyaman dan aman saat bertanya. Ketika anak sudah percaya kepada kita, itu berarti modal kita untuk mendidiknya terbuka lebar.

Ketika ia bertanya, luangkan waktu kita sebentar, taruh gawai kita, sejajarkan posisi kita dengannya, pandang matanya, pegang jemarinya, lalu jawablah setiap pertanyaan yang keluar dari bibir mungilnya. Menyenangkan sekali, bukan? Ya … ya … ya, memang tidak mudah. Tapi, patut dicoba, kan?

c. Sabar untuk menjadi pendengar yang baik.

Sebagian dari kita terkadang meremehkan hal ini. Kita menganggap, “Ah, apa sih?”. Padahal, aturannya sangat sederhana saja. Jika kita ingin anak mendengarkan perkataan kita, kenapa kita tidak berusaha menjadi pendengar yang baik dulu untuknya?

Akan lebih berbahaya bagi anak, jika ia memilih orang lain untuk mendengarkan segala keluh kesahnya. Jadikan diri kita sebagai teman mereka di satu waktu dan di lain waktu, berperanlah sebagai orang tua.

d. Sabar saat marah.

Ini mungkin bagian yang paling sulit. Saat emosi kita tidak terkontrol dan kita siap mengamuk. Ditambah lagi dengan kondisi rumah berantakan, masakan belum matang, cucian menumpuk, dan tugas-tugas lain yang belum terselesaikan.

Saya pun terkadang masih merasa kesulitan mengendalikan amarah ketika anak menunjukkan reaksi negatif.

Saat kita marah, jangan melampiaskannya dengan menjatuhkan hukuman. Karena hukuman tersebut biasanya cenderung menyakiti, bukan untuk mendidik. Solusinya, perbanyak istighfar. Dan kalau pun marah, usahakan untuk tidak berkata yang buruk terhadap anak.

Kita bisa mencontoh ibunda Syaikh Abdurrahman as-Sudais, yang ketika beliau marah, beliau berkata kepada si kecil Sudais, “Idzhab ja’alakallahu imaaman lilharamain,” Pergi kamu…! Biar kamu jadi imam di Haramain…!”. Dan apa yang terjadi? Si kecil Sudais kini menjadi Imam Besar Masjidil Haram. Masya Allah. Ini juga merupakan peringatan bagi diri saya pribadi untuk lebih menjaga lisan saat marah.

5. Doa adalah senjata utama

Manusia adalah makhluk yang lemah, kita membutuhkan pertolongan Rabb kita dalam mendidik buah hati. Tanpa pertolongan Allah Azza wa Jalla, niscaya segala usaha kita sia-sia.

Pertanyaannya, kapan sebaiknya kita mulai mendoakan anak-anak kita? Sejak kita berhubungan suami istri. Kalau menurut saya, sebaiknya sebelum kita memutuskan menikah, doakan pula anak keturunan kita.

Hantarkan anak keturunan kita menjadi pribadi yang saleh dengan doa-doa kita. Kita bisa meniru doaNabi Ibrahim ‘Alaihis Sallam dalam QS. As Shoffat: 100 dan Nabi Zakariya ‘Alaihis Sallam dalam QS. Ali Imron: 38.

Saya pribadi, pernah membaca riwayat (saya lupa dalam riwayat siapa) dimana Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mendoakan seorang anak sambil memegang dada sang anak. Dan saya pun mempraktekkannya untuk buah hati saya. Berikut redaksi doanya,

“Ya Allah Ya Rabbi, ampunilah dosa-dosa anak ini, lembutkanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.”

Semoga Allah senantiasa memberikan kita kesabaran dalam mendidik anak-anak kita untuk menjadi anak yang saleh dan berakhlaq mulia. Aamiin Allahumma Aamiin.

Barakallahu fiik.

Diolah dengan beberapa tambahan pemikiran dari:

Kajian al-Ustadz Abdullah Zaen, M.A.

Photo credit:  Blog Islamic online University

SHARE:
Adab, Aqidah, Bukti Cinta, Tauhid 0 Replies to “Jurus Mendidik Anak Sesuai Syariat Islam”