Renita Oktavia

I read so I write

September 5, 2019

Jika Memang Harus Kecewa

Bismillah

Sebelum membahas tentang kecewa dan patah hati, perlu dipertegas di sini bahwa patah hati tidak hanya terbatas pada cinta seperti ini. Jadi, patah hati yang akan saya bahas, maknanya luas ya.

Siapa yang tidak pernah kecewa dan patah hati? Semua orang pasti pernah mengalami. Ada yang mampu bangkit kembali, tapi tak jarang pula banyak yang tak mampu mengendalikan diri.

Sebenarnya penyebab orang yang sedang kecewa itu adalah ia terlalu banyak berharap kepada manusia. Ia berharap kekasihnya akan terus mencintainya, tapi ternyata sang kekasih malah meninggalkannya. Ia berharap dunia akan berbaik hati padanya, eh ternyata dunia malah menghinakannya. Begitulah keadaan manusia.

Berharap kepada makhluk, boleh-boleh saja, silakan, tidak ada yang melarang. Yang terlarang adalah ketika kita meletakkan harapan terlalu tinggi sampai-sampai kita lupa kepada siapa sebenarnya kita harus menggantungkan asa.

Karakter Manusia

Tamak dan terlalu berobsesi adalah salah satu karakter manusia. Saking tamaknya, obsesinya berkembang. Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan, tapi ia masih merasa kurang. Ia selalu mencari dan mencari. Terus begitu.

Kadang, tanpa kita sadari, kita terlalu njlimet menata dan merancang masa depan. Target pun ditetapkan. Umur sekian harus menikah, umur sekian harus kaya, dan sebagainya. Akibatnya, ketika semua itu tidak sesuai dengan realita, kita sedih bukan kepalang.

“Ah, kenapa sih harus begini?”

“Kenapa dia harus menikah dengan laki-laki lain?”

Siapa yang tahu tentang masa depan? Semua orang berharap mereka mendapatkan semua keinginan dan cita-cita mereka. Namun, kita lupa bahwa Allah sendiri berfirman:

“Tidak ada satupun jiwa yang mengetahui apa yang akan dia kerjakan besok.” (QS. Luqman: 34)

Memang benar adanya bahwa tidak akan ada yang bisa menghentikan ketamakan manusia selain datangnya kematian.

Jika Memang Harus Kecewa

Tak masalah jika kau harus kecewa, asalkan kautahu bagaimana formula untuk mengatasinya.

Jika memang kau harus kecewa dan terluka, ingatlah bahwa pena telah diangkat dan lembaran-lembaran (catatan takdir) telah mengering. Segala sesuatu yang luput dari kita, maka ia takkan mengenai diri kita. Dan sebaliknya, apa saja yang menimpa kehidupan kita, maka tidak akan pernah luput dari diri kita.

Takdir telah dicatat seluruhnya. Tugas kita hanyalah rida dan bersabar atas takdir tersebut. Dan bisa jadi, semua kekecewaan tersebut merupakan bentuk kasih sayang Allah kepada kita karena jika kita mendapatkan semua yang kita cita-citakan, kita akan semakin jauh dari-Nya.

Ada satu nasehat bagus dari Imam Syafi’i rahimahullah:

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang maka Allah timpakan ke atas kamu pedihnya sebuah pengharapan, supaya kamu mengetahui bahwa Allah sangat mencemburui hati yang berharap selain Dia. Maka Allah menghalangimu dari perkara tersebut agar kamu kembali berharap kepada-Nya.”

Dan jika memang harus kecewa, mungkin itulah saat yang paling tepat bagi kita untuk mengingat satu hal yang pasti terjadi, yakni kematian.

Tulisan ini sebagai pengingat bagi diri saya sendiri.

Barakallahu fiik

SHARE:
Random Thought One Reply to “Jika Memang Harus Kecewa”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

One comment on “Jika Memang Harus Kecewa

    Author’s gravatar

    Dug…. Kalimat di bagian akhir paragraf seolah menamparku. Kekecewaan bisa memmngingatkan kt akan kematian dan disitukah kt menyadari titik kelemahan sebagai manusia

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *