Renita Oktavia

I read so I write

September 4, 2019

Cara Menjaga Indonesia Versi Saya

Bismillah

36 tahun berada di Indonesia bukanlah waktu yang panjang untuk menjadi saksi berbagai peristiwa di negeri ini. Bagi saya, 36 tahun terlalu singkat karena saya tidak merasakan penderitaan selama zaman perang merebut kemerdekaan.

Alhamdulillah saya tidak mengalami masa-sulit tersebut. Namun, mendengar penuturan kakek dan orang tua saya rahimahumullah membuat saya bersyukur sekaligus prihatin. Prihatin karena sungguh berat perjuangan mereka kala itu. Semua serba terbatas. Nyawa setiap saat siap melayang. Wabah penyakit mematikan pun menjadi momok bagi semua orang.

Dan kini, saat negeri ini telah merdeka (meski sebenarnya belum sepenuhnya merdeka karena masih terus terlilit utang yang jumlahnya bikin pusing tak karuan), apa yang akan kita lakukan untuk menjaganya?

Jujur saja, sebenarnya saya sudah agak apatis dengan negeri ini. Apa pasal? Melihat bagaimana pucuk pimpinan tertinggi negeri ini dan jajarannya yang terlalu menganggap enteng setiap kejadian. Masalah yang datang tidak diberikan solusi yang matang. Ditambah lagi, pemujanya yang seolah menutup mata dengan betapa negeri ini sebenarnya sedang sakit.

Lihat saja, Papua yang masih membara menginginkan terlepas dari Indonesia, tapi sebagian orang memaksakan kehendak untuk memindahkan ibu kota negara. Lalu sekarang yang sedang viral adalah disertasi seorang doktor dari Universitas Islam yang kelihatannya ilmiah tapi isinya sampah. Bagaimana mungkin zina dihalalkan? Padahal telah jelas bahwa zina itu haram. Ia menghalalkan apa yang haram, mungkin ia lupa bahwa salah satu pembatal keislaman adalah menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya meskipun ia tidak melakukannya.

Indonesiaku Sayang, Indonesiaku Malang

Kalau kita mau membuka mata dan hati kita, maka ketahuilah bahwa bangsa ini tidak sedang baik-baik saja. LGBT kian marak, hukum yang semakin tajam ke bawah dan tumpul ke atas, impor berbagai barang kebutuhan tak terbatas , masuknya tenaga kerja asing yang terus menggurita, pembubaran kajian yang seenak jidatnya tanpa dasar, kurangnya empati pemerintah yang justru tertawa terbahak-bahak menonton lawak pada saat saudaranya di ujung timur negeri ini meronta meminta kemerdekaan.

Tidakkah miris melihat kenyataan tersebut?

Indonesia yang konon katanya dikelilingi lautan, tapi ternyata mengimpor garam. Indonesia yang penduduknya butuh lapangan pekerjaan ternyata untuk kuli bangunan saja harus impor dari Cina. Rakyat Indonesia dibiarkan menjadi penonton di negerinya sendiri. Perlahan namun pasti, bangsa ini akan mati. Mati tercekik utang, mati karena hancurnya moral.

Masih banyak masalah yang menimpa negeri ini. Dimulai dari rusaknya akhlaq , kurangnya adab, matinya empati dan nalar berpikir. Sebagian orang berteriak “Saya Pancasila! NKRI harga mati!” tapi justru mereka sendirilah yang menjadi penyebab perpecahan bangsa. Sayangnya, mereka tetap aman mencari makan. Sebaliknya, orang yang berpegang teguh pada ajaran agamanya dianggap radikal dan tidak sesuai dengan Pancasila.

Jangan Biarkan Indonesia Bubar!

Orang yang akalnya masih sehat, maka ia akan segera berobat jika ia mendapati sesuatu yang ganjil dan sakit pada dirinya. Ia akan menemui dokter, meminta resep, dan meminum obat secara teratur. Namun, orang yang akalnya sudah rusak, begitu ia merasakan sakit, ia akan pura-pura sehat, ia pun lantang berkata, “Aku sehat!” padahal di tubuhnya sedang bersemayam penyakit mematikan.

Maka demikian pula dengan bangsa ini. Ada sesuatu yang tidak beres dengannya. Sesuatu yang jika dibiarkan, maka akan merusak tatanan kehidupan.

Adakah cara untuk menjaga negeri ini? Ada.

Dan kalau ditanya, bagaimana cara saya menjaga NKRI, maka inilah jawabannya:

1. Mengajar dan menulis sesuatu yang baik

Lho? Apa hubungannya? Bangsa ini darurat adab dan akhlaq. Sebagai seorang guru dan orang tua, saya memiliki tanggung jawab untuk mendidik anak memiliki adab dan akhlaq yang mulia.

Sebagai seorang penulis, saya harus menulis sesuatu yang baik, bermanfaat, dan mendidik. Untuk itulah saya memilih dakwah sebagai niche blog; sesuatu yang jarang dilirik oleh para blogger.

2. Berdoa dengan doa yang terbaik pada waktu-waktu mustajab

Senjata seorang mukmin adalah doa. Untuk itulah, saya selalu menyisipkan satu doa untuk kelangsungan hidup bangsa dan negara ini. Adapun bagi para perusak bangsa, saya pun mendoakan agar mereka dihinakan di dunia dan akhirat. Entahlah, saya geram melihat tingkah mereka yang tak segan melanggar syariat. Jadi, daripada berdendang Jum Jumarika Aremana Jeng Jeng yang nirfaedah, saya memilih mengadukan semua pada Allah Ta’ala.

Phew … Tema ini sungguh berat bagi seorang emak. Ingin meluapkan keluh kesah tentang negeri ini, tapi khawatir terkena delik. Ya sudahlah … ini saja dari saya.

Barakallahu fiik

Photo credit: freepik

SHARE:
Blog Competition(s), Random Thought 2 Replies to “Cara Menjaga Indonesia Versi Saya”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “Cara Menjaga Indonesia Versi Saya

    Author’s gravatar

    Aq pun rasanya membara kalau bahas tema ini mba, duhh pengen teriak gmna gituu, kesel bgt sama org2 yg demen buat kerusuhan di negara ini pdhl perjuangan para pahlawan kt sngt luar biasa

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *