Juli 27, 2019

Memetik Faedah dari Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Keluarganya

Bismillah

Insya Allah sebentar lagi kita akan menjumpai hari raya Idul Adha di mana ingatan kita akan melesak ke keluarga Nabi Ibrahim yang mulia. Dari merekalah, selaksa faedah bisa dulang untuk dijadikan pelajaran berharga.

Sobat, sebagaimana kita tahu, Isma’il adalah putra Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam. Ibunya bernama Hajar. Ibrahim ‘Alaihissalam membawa Isma’il dan ibunya ke Mekkah atas perintah Allah. Ketika itu Isma’il masih menyusu. Ibrahim ‘Alaihissalam sering bolak-balik ke Mekkah mengunjungi keduanya dan Isma’il telah membantu Ibrahim dalam pembuatan Ka’bah.

Kemudian Ibrahim telah melihat (dalam mimpi) bahwa dirinya telah menyembelih putranya, Isma’il. Ia lalu bertekad untuk benar-benar mempraktikkannya. Di sinilah Ibrahim diuji oleh Allah Ta’ala. Padahal Isma’il adalah anak yang selama ini ia nanti-nantikan. Di usianya yang tak lagi muda, Allah Ta’ala mengaruniakannya anak dan ketika anak tersebut beranjak baligh, Allah ingin membuktikan pengabdian Ibrahim ‘Alaihissalam kepada-Nya dan membuktikan bagaimana karakter sang anak, yakni Isma’il.

Cinta Ibrahim kepada Allah Ta’ala diuji dengan ujian yang berat. Cinta sang ayah kepada anak ataukah cinta kepada-Nya dengan melaksanakan perintah-Nya? Aduhai betapa beratnya cinta itu dan betapa indahnya mencintai Al-Haq itu.

Sobat, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah Ta’ala yang tersaji dalam QS. Ash-Shaffat ayat 100:

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang shalih.”

Inilah doa Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam memohon kepada-Nya agar dikaruniakan anak yang termasuk orang-orang shalih. Maka sudah sepatutnyalah kita pun mencontoh beliau agar Allah Ta’ala memberikan kita anak-anak yang shalih dan shalihah. Karena memohon kepada Allah Ta’ala agar anak-anak kita menjadi anak-anak yang shalih dan shalihah merupakan bentuk kasih sayang orangtua kepada anak.

Allah pun memberi kabar gembira kepada Ibrahim ‘Alaihissalam. Hal ini tertuang dalam QS. Ash-Shaffat ayat 101:

“Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.”

Inilah Isma’il yang dimaksud. Allah Ta’ala mensifati Isma’il sebagai seorang yang hakiim, yaitu orang yang senantiasa bersabar, memiliki akhlaq yang baik, lapang dada dan pemaaf. Begitulah yang disebutkan dalam Tafsir As-Sa’di. Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam adalah khalillullah (kekasihnya Allah). Al-Khalil merupakan derajat cinta paling tinggi. Karena Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam hamba Allah dan Rasul-Nya yang telah mengabdikan diri hanya untuk Allah semata. Lalu Allah menguji rasa cintanya kepada Allah.

Dan ketika Ibrahim mengatakan perihal mimpinya kepada sang anak. Ia meminta pendapat dari putranya. Hal ini merupakan bentuk atau cara mengetahui pendapat sang anak terkait perintah Allah yang dibebankan kepadanya. Oleh sebab itu, kita sebagai orangtua harus sering berkomunikasi dengan anak terkait perintah dan larangan Allah, agar sejak dini anak sudah mengerti tentang hak-hak Allah dan kewajiban manusia untuk senantiasa beribadah kepada-Nya.

Lalu bagaimana jawaban sang anak? Apakah ia marah lalu membenci ayahnya?

Jawabannya adalah:

“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” (QS. Ash-Shaffat: 102)

Masya Allah! Inilah jawaban anak yang shalih. Lihatlah anak ini. Dia menggantungkan urusannya hanya kepada Allah, karena Allah lah Sang Pencipta, tempat meminta pertolongan. Maka sepantasnyalah kita menggantungkan setiap urusan kita hanya kepada Allah. Dengan demikian, Allah akan menurunkan pertolongan-Nya.

Ketika telah sempurna merebahkan putranya, Isma’il, Ibrahim pun bersiap melaksanakan perintah Allah. Allah Ta’ala berfirman dalam QS. Ash-Shaffat ayat 104-107. Setelah diketahui bahwa Ibrahim ‘Alaihissalam tunduk dan patuh terhadap perintah Allah Ta’ala, sikap anaknya yang menyandarkan semua kepada Allah, dan kesabaran ayah dan anak maka Allah melarang Ibrahim menyembelih putranya. Dan untuk meneruskan kurban, Allah Ta’ala menggantinya dengan seekor sembelihan kambing gibas yang besar lagi gemuk.

Lihatlah akhir dari suatu ketaatan dan penyandaran hanya kepada Allah Ta’ala. Allah pun menggantinya dengan ganti yang pantas.

Seperti yang pernah saya tuliskan dalam Saat Cinta Diuji dengan Cinta,  bahwa Ibrahim meninggalkan Hajar dan Isma’il di tanah tak bertuan. Mereka berdua terlibat dalam sebuah dialog penuh asa dan cinta:

Ummu Isma’il mengikuti Ibrahim dan berkata, “Yaa Ibrahim, kemana engkau akan pergi dan meninggalkan kami di lembah ini? Tidak ada seorang pun dan tidak ada sesuatu juga.”

Hajar terus mengulangi kata-katanya. Tapi Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam terus berjalan tanpa menoleh sedikit pun kepada keduanya. Bukan lantaran benci ataupun marah kepada mereka, tapi karena besarnya rasa cinta Ibrahim kepada Hajar dan Isma’il-lah yang membuatnya tak tega jika harus menatap keduanya. Bagaimana tidak? Sekian lama ia menginginkan seorang anak, lalu saat ia telah memilikinya dari Hajar, ia harus berpisah dengan istri dan putra tercinta.

Hajar pun berkata lagi, “Apakah Allah memerintahkanmu tentang hal ini?”

Apa jawaban Nabi Ibrahim Alaihissalam? Ia menjawab dengan isyarat, “Ya” tanpa menoleh sedikit pun. Betapa pedih hatinya melihat kenyataan tersebut.

Lalu bagaimana reaksi Hajar setelah mendengar suaminya berkata demikian?

Hajar berkata, “Kalau begitu, niscaya Allah tidak akan menelantarkan kami.”

Masya Allah! Inilah jawaban seorang wanita Mukminah yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Sebuah jawaban yang menggetarkan jiwa. Jawaban yang kandungannya bermakna bahwa Allah Ta’ala akan senantiasa menolong hamba-Nya yang beriman.

Maka hendaknya wanita Mukminah menyerahkan urusannya hanya kepada Allah. Allah-lah yang memerintahkannya untuk menutup aurat secara sempurna. Allah-lah yang memerintahkannya untuk taat kepada suami selama bukan kemaksiatan. Allah-lah yang menyuruhnya untuk senantiasa menjaga kehormatannya. Dan salah satu indikator seorang wanita menjaga kehormatan diri dan suaminya adalah dengan mengenakan hijab Syar’i yang menutupi auratnya secara sempurna.

Sobat, demikianlah hikmah kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan keluarganya. Sepatutnya kita meneladani mereka karena di dalamnya terdapat pengajaran bagaimana suami istri bersikap ketika dihadapkan pada ketentuan Allah, bagaimana ayah yang senantiasa berkomunikasi dengan putranya, bagaimana sikap seorang anak terhadap orangtua dalam menjalankan perintah Allah, dan bagaimana seorang wanita Mukminah menjaga kehormatan diri dan suaminya.

Sebagaimana hari ini kita melihat, sebagian kaum Muslimin berbangga-bangga dengan kehidupan artis dan terpedaya dengan kehidupan orang kafir. Mereka meniru dan mencintai idolanya mati-matian, padahal kelak kita akan dikumpulkan bersama orang yang kita cintai. Maka bijaklah wahai saudaraku, bijaklah dalam mencintai idola.

Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

Barakallahu fiik

Diolah tanpa mengubah makna dari khutbah shalat Idul Adha oleh suami saya sendiri.

SHARE:
Bukti Cinta, Kisah, Sirah Nabawiyyah 0 Replies to “Memetik Faedah dari Kisah Nabi Ibrahim ‘Alaihissalam dan Keluarganya”