Renita Oktavia

I read so I write

Juli 25, 2019

Ibu, Setinggi Apa Cita-Citamu untuk Buah Hatimu?

Bismillah

“Saya ingin kelak anak saya jadi seorang jutawan…”

“Halah bu…bu…anak saya udah bisa ngaji aja saya udah seneng. Saya gak mau muluk-muluk”

“Bu Ren, saya ini ndak pinter ilmu agama, anak saya mau shalat aja saya gembiranya gak ketulungan.”

————–

Masya Allah. Itu cuplikan curhatan para ibu ketika saya mengobrol dengan mereka tentang anak. Sering mendengar seperti itu, mak? Atau malah diri kita sendiri lah yang berkata demikian?

DISCLAIMER: artikel ini saya tujukan untuk sesama species saya, kaum Hawa baik yang udah menikah ataupun yang masih dalam penantian.

Okay kembali ke topik.

Ada yang salah kah dengan keinginan para ibu tersebut? Tidak. Tidak ada yang salah. Setiap ibu di dunia ini pasti menginginkan kebaikan untuk anak-anaknya. Jika ada ibu yang menginginkan keburukan menimpa anaknya, ia mungkin lelah dan butuh pelukan serta transferan lebih banyak. Eh ….

Dari sekian banyak ibu yang saya temui untuk diajak ngobrol, kebanyakan ibu mengutarakan keinginan dan harapan bagi sang anak dalam hal duniawi saja. Jarang sekali saya temui ibu yang punya keinginan, “Saya ingin anak saya jadi penghafal Al Qur’an dan menjadi pemimpin bagi umat manusia.” Kalaupun ada ibu yang memprioritaskan urusan akhirat anaknya, bisa dihitung dengan jari.

Para ibu tersebut cita-citanya masih berkutat pada standard dunia. Ingin anaknya jadi dokter, insinyur, pilot, dan profesi lainnya yang bisa menghasilkan banyak uang. Padahal sesungguhnya ada hal yang jauh lebih penting dan berharga dari itu semua. Apa itu? Berani bercita-cita agar sang buah hati menjadi pemimpin manusia,  menjadi ulama, menjadi penghafal Al Qur’an, menjadi orang yang berakhlak mulia.

Saya pernah mengikuti kajian Tarbiyatul  Aulad yang menjelaskan bahwa peran ibu ini sangat penting dalam sebuah peradaban. Dari rahim mereka inilah, generasi terbaik akan muncul, Insya Allah. Ini mengingatkan saya pada syair Arab seperti berikut:

“Al-ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq.”

Ibu adalah sekolah utama, bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik.

Semuanya bermula dari ibu. Bahkan saya pernah membaca bahwa untuk menghancurkan suatu bangsa, kau hanya perlu merusak kaum wanitanya saja. Buat mereka terlena dengan gemerlap dunya agar mereka jauh dari Tuhannya lalu melahirkan generasi-generasi yang rusak pula. Rusak dunia, rusak pula akhiratnya. Naudzubillah.

Ibu, tanggung jawabmu berat tapi Insya Allah bernilai pahala di sisi Allah Ta’ala jika kau persiapkan anak-anakmu menjadi generasi terbaik di zamannya. Pernah mendengar kisah  ibunda Syaikh Abdurrahman As Sudais, Imam Besar Masjidil Haram yang nada tartilnya menjadi favorit kaum Muslimin di seluruh dunia? Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah beliau? Bahwa seorang ibu, hendaknya mendoakan kebaikan bagi anaknya, kebaikan tidak hanya melulu masalah dunya tapi urusan akhirat lah yang didahulukan. Bahwa seorang ibu hendaknya memiliki cita-cita yang sangat tinggi dalam urusan akhirat anaknya.

Ibu, ingatlah ada hadits bagus buat kita pahami.

“Janganlah kalian mendoakan (keburukan) untuk dirimu sendiri, begitupun untuk anak-anakmu, pembantumu, juga hartamu.

Jangan pula mendoakan keburukan yang bisa jadi bertepatan dengan saat dimana Allah mengabulkan doa kalian…”(HR. Abu Dawud)

Ibu, tak masalah jika kau belum shalihah, tak masalah jika kau belum fasih membaca Al Qur’an, tak masalah jika kau belum paham ilmu agama. Semuanya bisa diperbaiki dan dipelajari. Kuatkan tekadmu untuk terus belajar demi anak-anakmu. Jangan rendah diri, bu. Belajarlah untuk menjalankan ketaatan pada Rabb-mu.

Ibu, luangkan waktumu untuk menemani, membaca, dan mengajari anakmu Al Qur’an. Anak-anak kita gak butuh ibu yang cantik dan pandai bersolek kok. Anak-anak kita itu butuh ibu yang mau terus belajar agama.

“Tapi anakku bukan anak yang cerdas mengahafal Al Qur’an “

Tidak perlu cerdas, bu. Allah Ta’ala sendiri yang menjamin.

Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan Alquran untuk diingat (dijadikan pelajaran), maka adakah orang yang mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).

Ini artinya apa, bu? Artinya selalu ada harapan bagi anak-anak kita untuk menghafal Al Qur’an. Hantarkan mereka untuk menjadi penghafal Qur’an, bu.

Keutamaan anak yang menghafal Al Qur’an

Ibu, tahukah kau keutamaan memiliki anak yang hafal Al Qur’an? Saya meringkas dari kajian yang diberikan oleh suami saya sendiri:

1. Anak yang mampu menghafal Al Qur’an kelak Allah Ta’ala akan memberinya mahkota dari cahaya dan kedua orangtuanya akan dikenakan jubah kebesaran di hari kiamat. Lalu Allah Ta’ala akan mengumumkannya di hadapan manusia.

Masya Allah, bu. Kalau anak kita jadi juara umum di sekolahnya lalu kita dipanggil Kepala Sekolah dan diumumkan di forum, gimana perasaan kita? Seneng banget kan jeng? Itu baru di dunia jeng. Ini nanti kalau kita punya anak penghafal Al Qur’an, Allah sendiri yang memanggil kita jeng.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang membaca Al-Qur`an, mempelajarinya dan mengamalkannya kelak pada hari kiamat dikenakan mahkota dari cahaya yang sinar kemilaunya seperti cahaya matahari. Dan bagi kedua orang tuanya masing-masing dikenakan untuknya dua pakaian kebesaran yang tak bisa dinilai dengan dunia. Maka kedua orangtuanya bertanya: ‘ karena apa kami diberi pakaian (kemuliaan) seperti ini?’ Maka dijawab: ‘Karena anak kalian berdua belajar dan menghapal Al-Qur`an’.” (Mustadrak Al-Hakim, 1/568. Dihasankan al-Albany rahimahullah Lihat Ash-Shahihah no. 2914)

2. Mengajarkan Al Qur’an termasuk ilmu yang bermanfaat dan amal jariyah yang terus mengalir pahalanya.

Jika kita mengajari anak kita membaca Al Qur’an maka setiap huruf bernilai pahala. Masya Allah. Ketika kita wafat dan anak kita masih menghafalnya maka pahalanya akan terus mengalir buat kita meskipun kain kafan kita telah usang. Pahalanya akan terus mengalir sampai hari kiamat.

Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

Apabila seorang anak Adam meninggal maka terputuslah amalnya kecuali tiga perkara Sedekah Jariyah, Ilmu yang bermanfaat, Anak soleh yang mendoakannya (HR. Muslim)

3. Menjadi syafaat bagi anak dan orangtuanya.

Ini sesuai dengan Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Bacalah Al Qur’an karena Al Qur’an akan datang pada hari kiamat nanti sebagai syafi’ (pemberi syafa’at) bagi yang membacanya.” (HR. Muslim).

4. Sebanyak hafalanmu dan anakmu, sejauh dan setinggi itu pula kedudukanmu di surga.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Dikatakan kepada shohibul Qur’an (penghafal Al Qur’an) nanti : ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya. Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

5. Orangtua yang mendidik dan mengajari anaknya Al Qur’an adalah sebaik-baik manusia.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sebaik-baik kalian adalah yang belajar al-Quran dan mengajarkannya.”( HR. Bukhari)

6. Jika orangtua ikhlas dan sabar mengawal, mendidik, dan mengajari anaknya untuk menghafal Al Qur’an maka ia telah mempersiapkan generasi terbaik untuk memperoleh kedudukan tinggi di akhirat.

Ya Allah jadikanlah kami dan anak keturunan kami sebagai para penjaga Al-Qur’an…..

Aamiin ya Mujibassaailiin.

Jadi, berani bercita-cita lebih tinggi, bu?

Barakallahu fiik

SHARE:
Aqidah, Bukti Cinta, Random Thought One Reply to “Ibu, Setinggi Apa Cita-Citamu untuk Buah Hatimu?”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict.

COMMENTS

One comment on “Ibu, Setinggi Apa Cita-Citamu untuk Buah Hatimu?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *