Renita Oktavia

I read so I write

Juli 21, 2019

Duhai Ibu yang Lelah, Kupersembahkan Ini untukmu: Dua Kisah Istimewa dalam Rumah Nubuwwah

Bismillah

Ibu …

Aku tahu betapa lelahnya dirimu. Seharian mengurus rumah seakan tak ada habisnya. Mainan anak yang berserakan, remahan roti yang berceceran, cucian yang terus menumpuk, dan riuhnya rumahmu tatkala si kecil berteriak.

Dari yang awalnya berantakan … rapi … lalu berantakan lagi, demikian seterusnya. Dari yang kotor … bersih lagi … lalu kotor lagi. Dari anak-anak, suami, dapur, rumah, dan seterusnya.

Rasa lelah yang menguras habis energimu dan juga kebahagiaanmu. Rasa lelah yang menjangkiti diriku dan mungkin juga jutaan ibu lainnya di dunya ini.

Saya teringat sebuah nasehat yang pernah saya baca dari akun Facebook mbak Sofiana Indraswari. Nasehat yang dikiaskan dalam sebuah narasi antara iblis dan setan:

“Jika kau ingin merusak sebuah keluarga, rusaklah dulu ibunya !

Beri ia perasaan akan rasa lelah bertubi yang membuatnya merasa lemah dan habis energi.

Jika ia sudah merasa lelah, ambil rasa syukurnya, buat ia merasa bahwa hidupnya habis untuk mengurus keluarga dan buatlah ia tidak memiliki apapun, selain lelah yang didapatnya.

Setelah kau ambil rasa syukurnya, buatlah ia menjadi orang yang tidak percaya diri.

Sibukkan pandangan matanya untuk melihat kebahagiaan orang lain dan buatlah ia lupa akan kebaikan yang ia miliki.

Buatlah ia merasa minder dan merasa tidak berharga.

Jika itu sudah terjadi, ambilah juga sabarnya.

Gaduhkan hatinya agar ia merasa ada banyak hal yang berantakan dalam rumahnya, buatlah ia merasa betapa banyak masalah yang ditimbulkan dari anaknya, dari suaminya.

Goda lisannya untuk berkata kasar, hingga nanti anak-anak mencontohnya dan tak menghargainya lagi, lalu bertambahlah kemarahan demi kemarahan, hilanglah aura surga dalam rumah.

Dan kau akan menemukan perlahan, rumah itu rusak … dari pintu seorang IBU.”

Bu …

Tahukah engkau?

Ali bin Abi Thalib sebagai suami menuturkan betapa lelah istrinya mengurusi rumah yang tak seberapa besar itu. Ali radhiyallahu anhu itu pun berkata kepada Fathimah radhiyallahu anha,  “Alangkah lelahnya engkau wahai Fathimah sehingga menyedihkan hatiku. Sungguh Allah telah memberikan tawanan kepada Rasulullah, maka mintalah kepada beliau satu tawanan saja yang akan membantumu dalam bekerja!”. Fathimah menjawab, “Akan kulakukan, Insya Allah.”

Bu …

Tangan Fathimah Az- Zahra’ radhiyallahu anha, putri Nabi yg mulia itu menjadi keras dan kasar karena harus menumbuk dan mengadoni sendiri dengan menggunakan roha (alat tumbuk saat itu).

Fathimah lalu datang untuk memohon pembantu dari ayah mulia Rasulullah. Saat bertemu ayahandanya, beliau malu untuk mengutarakan permintaannya, maka beliau pulang dan kembali lagi bersama Ali lalu Ali menceritakan keadaan Fathimah kepada Nabi. Namun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Demi Allah aku tidak akan memberikan kepada kalian berdua sedangkan aku membiarkan ahlu shuffah dalam keadaan lapar, aku tidak mendapatkan apa-apa untuk aku infakkan kepada mereka, tapi aku akan menjual para tawanan itu dan hasilnya akan aku infakkan kepada mereka.”

Maka kembalilah mereka berdua ke rumahnya. Malam itu, saat Ali dan Fathimah sudah bersiap istirahat dan telah berbaring. Ayahanda Rasulullah datang. Beliau masuk rumah mereka dan mendapati keduanya sedang berselimut yang apabila ditutupkan kepalanya maka terbukalah kakinya dan apabila ditutupkan kakinya maka terbukalah kepalanya.

Keduanya bersegera ingin bangun.

Rasulullah berkata: “Tetaplah di tempat kalian berdua.”

Beliau mendekat dan duduk di antara mereka berdua hingga Ali merasakan dingin telapak kaki beliau mengenai perutnya.

Kemudian ayahanda Rasulullah berkata:

“Maukah aku tunjukkan pada kalian berdua yang lebih baik dari yang kalian minta? Kuajarkan kepada kalian kata-kata yang diajarkan Jibril kepadaku, ucapkanlah setiap selesai shalat fardhu Subhanallah 10 kali, Alhamdulillah 10 kali, dan Allahu Akbar 10 kali. Apabila kalian hendak tidur maka bertasbihlah 33 kali, bertahmidlah 33 kali dan bertakbirlah 34 kali. Itu lebih baik bagi kalian berdua dari seorang pembantu.”

Bu …

Sayyidah Fathimah radhiyallahu anha telah melalui banyak kejadian-kejadian besar yang ruwet dan sangat keras. Beliau juga menanggung hidup dalam kekurangan dan banyak mengalami kesulitan dan kesusahan.

Jika itu Fathimah, maka inilah ibunya Khadijah radhiyallahu anha.

Jibril pernah datang kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Tapi kedatangannya kali ini bukan menyampaikan ayat. Jibril datang turun dari langit yang tujuh sana hanya untuk menyampaikan memberi salam. Salam untuk istri Nabi, Khadijah yang mulia.

Jibril berkata:

“Wahai Rasulullah! Ini Khadijah telah berjalan menuju kepadamu seraya membawa lauk atau makanan atau minuman. Apabila dia telah sampai kepadamu maka sampaikanlah padanya salam dari Rabbnya dan dariku! Dan berilah kabar gembira padanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari qashab (perak) tidak ada kegaduhan (suara-suara keras) di dalamnya tidak adapula rasa lelah (payah).” (HR. Bukhari Muslim).

Bu …

Jika kau lelah, istirahatlah

Jangan paksa ragamu untuk menyelesaikan semua urusan.

Jangan biarkan setan menghalangi kebaikan yang akan engkau peroleh.

Jangan pula kau lupa bahwa dirimu sangat berharga.

Semoga dua kisah istimewa dalam rumah Nubuwwah ini menjadi pemicu semangat kita untuk meraih ridha Allah ya bu.

Selamat ibu, dengan semua kelelahan urusan rumah. Semoga salam Allah dan para malaikat untukmu dan surga balasan tertinggimu. Aamiin Allahumma Aamiin.

Barakallahu fiik

Referensi:

  1. Mereka adalah Para Shahabiyat: Kisah-Kisah Wanita Menakjubkan yang Belum Pernah Tertandingi hingga Hari Ini oleh Mahmud Mahdi al-Istanbuli
  2. Kajian ust. Budi Ashari

*) Sebab menulis adalah untuk mengingatkan diri sendiri

SHARE:
Kisah 2 Replies to “Duhai Ibu yang Lelah, Kupersembahkan Ini untukmu: Dua Kisah Istimewa dalam Rumah Nubuwwah”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “Duhai Ibu yang Lelah, Kupersembahkan Ini untukmu: Dua Kisah Istimewa dalam Rumah Nubuwwah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *