Renita Oktavia

I read so I write

Juli 15, 2019

Laugh at Yourself

Bismillah

The ability to laugh at yourself proves how good is your sense of humor

Hidup yang kita jalani sampai detik ini tidak hanya berkutat tentang suka cita dan pesta pora. Lebih dari itu, terkadang hidup berisikan duka dan nestapa. Tak jarang, air mata menjadi saksi betapa beratnya beban yang menghimpit. Penderitaan, kegagalan, dan kehilangan seolah siap menerkam. Kita pun mencari selaksa cara untuk menghindari penderitaan. Benarkah demikian?

Luka, sakit hati, dan penderitaan tak harus dihindari. Ada kalanya, ia bisa berubah menjadi sesuatu yang pantas dan layak untuk dinikmati. Menikmati penderitaan? Ya. Bagaimana caranya? Apakah melulu dengan menangis? Tentu saja tidak. Cobalah cara lain. Dengan menertawakan dirimu sendiri, misalnya.

Bagaimana bisa penderitaan dianggap sebagai lelucon? Kedengarannya aneh karena kita mungkin terbiasa menertawakan penderitaan orang lain, tantangannya kali ini adalah cobalah sesekali menertawakan penderitaan kita sendiri. Sebagaimana menangis merupakan proses melepaskan emosi, demikian pula dengan tertawa. Menertawakan kehidupan berarti kita harus mampu melihat persoalan dari sisi yang berbeda agar masalah-masalah tersebut pantas dijadikan bahan tertawaan. Misal, saat pasangan kita terlihat sangat menjengkelkan hingga kita ingin melepaskan tangannya, maka tertawakan saja diri kita yang entah kenapa dulu bisa memilihnya.

Mau contoh lain lagi? Bagi kalian yang sedang jatuh cinta tapi takdir tak berpihak pada kalian, apa yang akan kalian lakukan? Menangisinya atau menertawakannya? Hidup memang lucu, saat kita menginginkan seseorang, ia tidak mencintai kita. Lalu saat ia ingin bersama kita, eh kita sama sekali tidak tertarik padanya. Kita saling mencintai satu sama lain, ternyata semesta tak berpihak pada kita. Lucu, bukan?

Menertawakan hidup adalah reaksi alami meski sulit untuk dijalani. Hanya orang-orang tertentu saja yang mampu menguasai seni menertawakan diri sendiri ini. Jadi jika hidupmu dipenuhi penderitaan, tertawa saja! Tertawa memang tidak menjamin semua akan bahagia, tapi setidaknya hidupmu jauh lebih berarti. Bayangkan jika seumur hidup, kau tak pernah menderita, betapa singkatnya hidup yang kau jalani.

Penderitaan adalah karunia yang diselipkan di tengah bentang kehidupan meski dalam wujud yang berbeda. Selanjutnya terserah bagaimana kau menyikapinya, menangis atau tertawakah?

Barakallahu fiik

SHARE:
Random Thought 5 Replies to “Laugh at Yourself”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict.

COMMENTS

5 thoughts on “Laugh at Yourself

    […] lagi galau, tidak tahu harus berbuat apa, ingat kutipan Ibn Qayyim tadi ya, sob. Ingat pula untuk tertawa. Satu lagi, ingatlah bahwa semua ujian ini Insya Allah akan menjadi kafarah bagi kita sehingga […]

    Author’s gravatar

    Entah lah ane pun pernah mengalamina, ketika semua sudah di maksimalkan, di perjuangkan ternyata takdir berkata lain, mungkin ini jalan jalan yg terbaik,
    di belakang masih ada hadiah dari Allah yang sekarang belum ane pahami,
    terus berbaik sangka pada Allah karena Dia yang maha Membolak Balikkan Hati 🙂

      Author’s gravatar

      Sabar, mas. Insya Allah tinggal sedikit lagi. Iya. Sedikit lagi 😊

    Author’s gravatar

    Boleh ditertawakan atau ditangisi, selanjutnya sabar dan tawakal.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *