Renita Oktavia

I read so I write

Juli 9, 2019

Memaknai Kehidupan Berumah Tangga Lewat Sepasang Sumpit

Bismillah

Saya tertarik menulis ini karena beberapa waktu yang lalu suami mengajak saya dan tuan muda makan di kedai makan Jepang. Kami menikmati mie ramen yang menggugah selera itu. Frankly speaking, ini kali pertama saya makan mie ramen. Pengalaman makan mie ramen menggunakan sumpit ternyata menjadi sesuatu yang sangat berharga bagi saya pribadi.

Awalnya, saya agak kesulitan menggunakan sumpit. Setelah mengamati bagaimana suami dengan lihainya memainkan sumpit di atas mie ramen, saya pun belajar darinya. Sekali, dua kali, saya gagal. Namun, alhamdulillah saya mulai menguasai sumpit. Dan akhirnya saya bisa menikmati mie ramen hingga tetes terakhir.

Belajar dari sumpit

Hikmah apa sih yang bisa kita ambil dari sepasang sumpit? Sumpit, meski bentuknya sederhana, filosofinya sangat dalam, sedalam cintaku padamu. Uhuk.

1. Sumpit harus sepasang

Apa jadinya jika kita makan hanya dengan satu batang sumpit? Tentu saja kita tidak akan mampu mengambil makanan. Makan terasa tidak nyaman. Dan demikianlah dengan kehidupan rumah tangga kita. Allah Ta’ala telah menciptakan kita berpasangan laki-laki dan perempuannya agar kita bisa saling melengkapi.

Allah berfirman dalam QS. Ar Rum ayat 21:

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Dengan memiliki pasangan halal, tentu kita bisa memperoleh banyak manfaat. Kita tak lagi merasa kesepian, kita bisa bersenang-senang, memperoleh keturunan untuk kemudian dididik bersama dalam bingkai syariat.

2. Sumpit sama panjang

Kita tidak pernah menjumpai sepasang sumpit yang panjangnya berbeda, kan? Sumpit dibuat sama panjang, rata-rata sih panjangnya sekitar 20-25 cm.

Pun demikian dalam kehidupan berumah tangga. Suami istri sebaiknya mengetahui perannya masing-masing, saling menghargai, dan saling menghormati. Tidak ada yang merasa lebih tinggi hingga meremehkan yang lainnya. Meski memang, jika dilihat dari besarnya tanggung jawab, suami-lah yang memikul beban lebih banyak. Oleh sebab itu, arrijalu qawwaamuuna alannisa’ … Bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita.

3. Sumpit itu terbuat dari bahan yang sama

Apakah kita pernah menjumpai sepasang sumpit yang terbuat dari dua bahan berbeda? Kalaupun ada, rasanya agak aneh ya dan tentu saja akan kurang nyaman menggunakannya. Ada juga sih sumpit yang terbuat dari plastik. Yang jelas, bahannya sama.

Kaitannya dengan kehidupan rumah tangga? Bahwa sepasang suami istri itu berada dalam keadaan sekufu, yakni memiliki kesamaan dalam agama dan kedudukan sosial. Hikmahnya tentu saja agar pernikahan mereka langgeng.

Ada satu kisah shahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, namanya Zaid bin Haritsah radhiyallahu ‘anhu yang dinikahkan dengan Zainab binty Jahsy radhiyallahu ‘anha. Zainab adalah sosok wanita cantik yang berasal dari keluarga terpandang. Adapun Zaid adalah lelaki biasa dengan wajah yang tidak begitu tampan. Pernikahan mereka kandas. Inilah hikmah mengapa suami istri harus sama kedudukan sosialnya.

4. Jika yang satu bergerak, yang lain diam

Kalau kita memakai sumpit, satu sumpit bergerak dan satu sumpit lainnya diam. Analoginya bahwa dalam berumahtangga, ada kalanya saat suami atau istri marah maka pasangannya memilih untuk diam, bukan ikut-ikutan marah.

Pun demikian ketika dihadapkan pada satu hal dalam pengambilan keputusan. Akan sangat sulit jika keduanya (suami istri) mengambil inisiatif secara bersama-sama.

5. Sumpit saling terikat satu sama lain

Bayangkan jika kita harus makan dengan menggunakan satu sumpit saja. Atau jika kita memakai satu sumpit yang patah. Sumpit itu sepasang, saling terikat satu sama lain. Ia hanya bisa dipakai jika sepasang dan dalam keadaan normal (baca: tidak cacat atau tidak patah salah satunya). Jika tidak, maka sumpit tidak bisa digunakan.

Demikian pula dengan kehidupan berumah tangga, suami istri itu satu kesatuan. Mereka akan saling melengkapi. Jika salah satunya tidak mampu menjalankan fungsinya maka yang lainnya tidak akan bermakna.

6. Sumpit harus rela berada dalam genggaman

Kelima hal tersebut di atas tidak akan ada artinya jika sepasang sumpit tak mau digenggam dan digerakkan oleh tangan. Demikian pula keadaan suami istri, apalah arti kebahagiaan berumahtangga jika tidak didasarkan ketundukan kepada Allah Ta’ala.

Tangan yang memegang sumpit dianalogikan dengan aturan-aturan yang telah Allah tetapkan. Dan pasangan suami istri harus rela dan menyerahkan diri seutuhnya kepada Allah semata. Tanpa kepatuhan kepada Sang Pencipta, bahtera rumah tangga tidak akan ada artinya.

Jadi, marilah belajar dari sepasang sumpit.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiik.

SHARE:
Random Thought 2 Replies to “Memaknai Kehidupan Berumah Tangga Lewat Sepasang Sumpit”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy who becomes a contributor in estrilook(dot)com.

COMMENTS

2 thoughts on “Memaknai Kehidupan Berumah Tangga Lewat Sepasang Sumpit

    Author’s gravatar

    Tulisannya dalam, Mbak. Wah, lihat sumpit saja bisa jadi tulisan. Keren.

    Author’s gravatar

    Saya suka tulisannya, apalagi belum nikah. Suka kepikiran ribet dengan pasangan nanti.
    Salam kenal ya mbak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *