Juli 7, 2019

Adab Promosi dalam Islam

Bismillah

Dears, sebagai seorang pengusaha Muslim, sudah selayaknya kita membekali diri dengan ilmu-ilmu perniagaan yang sesuai dengan syariat. Tidak layak rasanya jika kita mengaku pengusaha Muslim, tapi kita tidak mampu menerapkan syariat dalam transaksi jual beli kita.

Pada dasarnya, perniagaan tidak hanya melulu tentang untung dan rugi. Lebih dari itu, kita wajib mempertimbangkan keberkahan dalam muamalah. Sebagian pengusaha Muslim saat ini terlena dengan konsep untung dan rugi. Mereka melanggar beberapa ketentuan syariat hanya untuk mengejar keuntungan. Naudzubillah.

Dears, salah satu hal yang wajib kita ketahui dalam perniagaan adalah adab atau etika ketika berpromosi. Tak sedikit orang yang lalai dengan hal ini. Mereka main sruduk sana sruduk sini dengan mengatasnamakan promosi. Lalu, sebenarnya bagaimana sih kaidah berpromosi yang baik dan sesuai syariat?

Syaikh Muhammad Ali Farkus hafizhahullah, ulama ahlussunnah di Aljazair ditanya mengenai bagaimana hukum mendesain promosi atau iklan di tempat-tempat umum. Beliau pun menjawab bahwa promosi iklan komersil maupun non-komersil seperti itu diperbolehkan selama tidak melanggar aturan-aturan syariat yang mampu merubahnya menjadi terlarang.

Hukum Iklan

Hukum iklan itu halal dan diperbolehkan selama memenuhi beberapa syarat, yaitu:

1. Secara substansi, iklan diperbolehkan.

Iklan tersebut terlepas dari propaganda yang melanggar syariat, akhlaq, nilai-nilai, dan etika Islam. Tidak diperbolehkan mendesain iklan yang mengundang syahwat seperti gambar wanita yang tabarruj, wanita yang telanjang (tidak memakai pakaian Islami); tidak diperbolehkan promosi film-film vulgar, tempat-tempat dan para pelaku kemaksiatan; tidak diperkenankan promosi khamr, rokok, narkotika dan sejenisnya. Tidak pula mendesain iklan yang mempromosikan perjudian dan taruhan. Semua iklan-iklan tersebut wajib dijauhi, dengan atau tanpa musik.

Sehingga, iklan yang mengandung kerusakan dan berpotensi merusak agama dan akhlaq, diharamkan. Demikian pula haram hukumnya membantu pembuatan iklan tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala:

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. al-Maaidah: 2).

2. Pengiklan wajib bersikap jujur dalam mempromosikan produknya baik berupa barang maupun jasa.

Iklan yang dipasang wajib sesuai dengan kondisi riil dari suatu produk dan jasa, karena kejujuran hukumnya wajin dan merupakan sebab diperolehnya keberkahan, dan sebaliknya dusta dan menyembunyikan cacat diharamkan karena menyebabkan suatu produk dan jasa tidak laku. 

3. Tidak diperkenankan mengiklankan suatu barang atau jasa yang mengandung kecurangan dan pemalsuan (barang imitasi).

“Barangsiapa yang menipu, maka ia tidak termasuk golongan kami. Orang yang berbuat pengelabuan dan pemalsuuan, tempatnya di neraka.”(HR. Ibnu Hibban : dari hadits Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dinilai shahih oleh al-Albani)

Dan juga sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam,

“Seorang muslim adalah saudara muslim lainnya, tidak halal bagi seorang muslim menjual barang kepada saudaranya yang di dalamnya ada cacat, kecuali ia menerangkan cacat tersebut”(HR. Ibnu Majah, dinilai shahih oleh al-Albani)

4. Iklan yang ditampilkan tidak mendiskreditkan pedagang lain.

Maksudnya adalah iklan terebut tidak menjatuhkan produk pedagang lain hanya untuk memperoleh keuntungan.

5. Tidak mengelabui para konsumen dengan mencontek merk, logo, maupun nama dari produk pedagang lain.

6. Berusaha agar iklan tersebut dilakukan dengan transaksi yang memenuhi syarat-syarat akad ijarah.

Diantaranya adalah mengetahui nilai transaksi ijarah, durasi waktu akad yang disepakati kedua pelaku transaksi, tempat ijarah memang dapat dimanfaatkan dan dapat diserahterimakan serta terbebas dari ketidakpastian dan ketidakjelasan.

Refleksi

Terkadang kita menjumpai seorang penjual yang mempromosikan barangnya dengan cara mengirim broadcast hampir setiap hari. Atau kadang ada penjual yang mengiklankan barang dagangannya padahal dia tahu kita juga menjual barang yang sama. Pernah mengalami? Sama, saya juga pernah.

Beriklan seperti itu tentu saja tidak pada tempatnya. Karena selain mengganggu, itu berarti tidak menghargai sesama penjual.

Promosi boleh, tetapi tetap harus mengedepankan adab ya, dears.

Semoga bermanfaat.

Barakallahu fiik.

Diringkas dari kajian online Tarbiyatun Nisaa’ oleh bapak Arifin Masruri

SHARE:
Adab 0 Replies to “Adab Promosi dalam Islam”