Juni 26, 2019

Milik Siapa Ied itu?

Bismillah

Hari raya Idul Fitri memang telah berlalu. Masing-masing dari kita telah merayakan hari kemenangan tersebut. Walaupun telah berlalu, izinkan kami mendokumentasikan syair nan indah dari seorang ulama yakni Al-Hafizh Ibnu Rajab al-Hanbali rahimahullah.

Beliau berkata dalam kitabnya Lathâiful Ma’ârif tentang hal ini,

ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﻟﺒﺲ ﺍﻟﺠﺪﻳﺩ

Bukanlah ied milik orang yang memakai baju baru

ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﻃﺎﻋﺘﻪ ﺗﺰﻳﺪ

Sesungguhnya ied milik orang yang ketaatannya (kepada Allah) bertambah

ﻟﻴﺲ ﺍﻟﻌﻴﺩ ﻟﻤﻦ ﺗﺠﻤﻞ ﺑﺎﻟﻠﺒﺎﺱ ﻭ ﺍﻟﺮﻛﻮﺏ

Bukanlah Ied milik orang yang memperindah diri dengan pakaian dan kendaraan baru

ﺇﻧﻤﺎ ﺍﻟﻌﻴﺪ ﻟﻤﻦ ﻏﻔﺮﺕ ﻟﻪ ﺍﻟﺬﻧﻮﺏ

Sesungguhnya Ied milik orang yang dosanya diampuni oleh Allah

[Selesai ]

Masya Allah.  Sungguh tak bosan kami membacanya berulang- ulang.  Syair yang singkat namun sarat dengan faedah bermanfaat diantaranya ialah

Pertama Ahlussunnah wal Jamaah sepakat bahwa iman itu dapat bertambah dan berkurang. Bertambah dengan melakukan ketaatan, berkurang dengan melakukan kemaksiatan. Kita ketahui bersama bahwa bulan Ramadhan lalu merupakan madrasah jasadiah dan ruhaniah. Raga kita ditempa untuk melakukan puasa di siang hari lalu di malam harinya mendirikan shalat Tarawih, kemudian bangun di akhir malam untuk bersahur. Terus demikian selama sebulan penuh. Ini merupakan bentuk ketaatan yang berpola menjadi kebiasaan. Dengan kebiasaan seperti itulah ketaatan kita bertambah dan diharapkan menjadikan pribadi yang bertakwa kepada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

يأَيُّهَا الَّذِينَءَامَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183]

Pun demikian dengan jiwa kita. Selama sebulan penuh diisi dengan dzikir kepada Allah ‘Azza wa Jalla yakni membaca Al-Qur`an, sehingga hati kita menjadi hidup, dan kita pun sering mendengarkan tausyiah sehingga jiwa kita condong kepada ketaatan dan kebaikan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

وَكَذَلِكَ أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ رُوحًا مِن

ْ أَمْرِنَا مَا كُنْتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ وَلَا الْإِيمَانُ وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur`an) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al-Kitab (Al-Qur`an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur`an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura: 52)

Kedua Kesenangan dunia itu menipu dan melalaikan hati. Tidak sedikit mereka yang berhari raya bermegah-megahan dengan hartanya sehingga dengan hartanya tersebut mereka menjadi lalai. Mereka mengenakan pakaian dan kendaraan baru hanya untuk memamerkan harta dan berbangga-bangga terhadap harta yang dimilikinya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ

بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak.” (QS Al-Hadid: 20)

Ketiga Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (Shahih. HR Bukhari dan Muslim).

Lalu Beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barangsiapa melaksanakan shalat pada malam lailatul qadar karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosa-dosanya yang telah lalu akan diampuni.” (Shahih. HR Bukhari).

Dari dua hadits di atas dapat disimpulkan bahwa Allah ‘Azza wa Jalla akan mengampuni dosa orang-orang yang berpuasa dan shalat pada malam lailatul qadr karena iman dan mengharap pahala.  Sehingga dengan demikian jadilah mereka orang-orang yang memiliki hari raya. Semoga mereka itu adalah kita. Aamiin Allahumma Aamiin.

Barakallahu fiik.

SHARE:
Adab 0 Replies to “Milik Siapa Ied itu?”