Mei 27, 2019

Rindu Masakan Ibu

Bismillah

Bicara tentang Ramadan, rasanya memang tidak akan pernah ada habisnya. Kegembiraan saat ia datang, pun kenangan yang ia tinggalkan, takkan cukup membuat pena menari di atas kertas.

Pernak pernik Ramadan memang selalu menggelitik. Kuliner khas yang hadir hanya pada saat tamu agung ini datang pun tak mau ketinggalan. Semuanya dirindukan dan menjadi kesukaan.

Bagi saya, tidak ada makanan khusus yang harus tersaji di meja makan saat waktu berbuka tiba. Karena memang, sedari kecil, saya terbiasa makan dengan apa pun yang ibu masak. Intinya, kami tidak pernah memaksakan diri harus makan ini atau itu. Seadanya saja. Kalau pun toh di meja makan hanya ada tumis kangkung dan tempe, ya itulah yang akan saya makan.

Nah, dari beberapa masakan ibu saya rahimahallah, tentu ada yang menjadi makanan favorit saya saat berbuka. Penasaran, kan?

1. Sayur asem dan sambel pindang

Entah kenapa masakan ibu saya selalu bikin kangen. Anehnya, saat saya mencoba memasaknya sendiri, hasilnya tidak sesedap dan senikmat bikinan ibu. Contohnya ya sayur asem ini.

Sayur asem dan sambal pindang mampu membuat saya menghabiskan 2 piring nasi hahaha. Apalagi kalau disajikan hangat, wuih … Makanan sekelas resto mewah pun takkan mampu menandingi kelezatannya.

2. Daging ungkep

Seperti yang telah saya katakan di atas bahwa sekeras apa pun saya mencoba memasak seperti ibu, hasilnya tetap saja tak mampu mengalahkan masakan ibu rahimahallah. Dan daging ungkep ini biasanya tersaji saat awal-awal puasa dan pada awal bulan hahaha. Kalau ditanya kenapa, maka jawabannya adalah awal bulan merupakan saat ibu gajian dan pada awal puasa, tujuannya tentu agar puasanya lebih semangat.

Bagi keluarga guru seperti kami, makan daging itu sudah sesuatu yang mewah banget. Apalagi guru zaman dulu belum bernasib baik seperti guru zaman sekarang. Sejak kecil, saya sudah diajari bapak dan ibuk rahimahumullah untuk nrimo ing pandum dan tidak menuntut aoa yang memang tidak mampu diberikan oleh orang tua.

3. Tumis kangkung dan tempe

Tempe adalah satu makanan kesukaan saya. Ibu tahu hal itu. Maka tidak mengherankan kalau hampir setiap hari, tempe selalu tersaji untukku, entah digoreng atau pun disayur. Hidup sehari tanpa tempe itu rasanya seperti hidup tanpa cintamu, sayang ….

Tumis kangkung dan tempe merupakan deadly combination yang mampu meluluh lantakkan diri saya. Ini merupakan kombinasi makanan kedua yang bisa membuat dua piring nasi berpindah ke perut saya.

Sebenarnya ibu saya tidak memiliki resep khusus sih saat memasaknya (kata beliau begitu), tapi entah kenapa kok rasanya Masya Allah enak banget.

Itu dia tiga makanan favorit saya saat berbuka puasa. Semuanya memang tak bisa terlepas dari peran ibu saya. Kalau boleh jujur, kenapa masakan ibu selalu terasa lebih enak dibandingkan masakan retoran mewah, jawabannya ada tiga:

  • Ibu membuat masakan tersebut dengan penuh cinta. Segala sesuatu yang dilakukan dengan dilandasi cinta, maka bisa dipastikan hasilnya akan sempurna. Demikian pula dengan masakan ibu.
  • Masakan ibu lebih sehat, bersih, dan higienis. Seorang ibu tidak akan memberikan makanan yang kotor dan membahayakan bagi keluarganya. Ia akan memilih sayuran terbaik.
  • Ibu lebih hafal selera masakan favorit orang tercinta. Ibulah satu-satunya orang yang paham kesukaan kita.

Bersyukurlah kalian yang masih memiliki ayah dan ibu. Karena di luar sana ada yang terpaksa menjalani puasa tanpa kehadiran keduanya. Contohnya, saya.

Barakallahu fiikum

SHARE:
Blog Competition(s) 0 Replies to “Rindu Masakan Ibu”