Renita Oktavia

I read so I write

Mei 17, 2019

Saat Cinta Diuji dengan Cinta

Bismillah

Berbicara tentang cinta memang tiada habisnya. Jiwa akan terasa sangat kering jika tiada cinta di dalamnya. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya yang berjudul Raudhatul Muhibbiin menyatakan, “Cinta bagi ruh ibarat makanan. Jika engkau meninggalkannya, ia akan membahayakanmu. Jika engkau terlalu banyak menyantapnya, ia akan membinasakanmu.”

Tapi bagi para pecinta, cinta yang hakiki adalah cinta yang ditujukan untuk Rabb-nya semata. Sebab cinta yang demikian akan menuai kebahagiaan yang sempurna. Namun, jika cinta itu ditujukan bukan untuk Allah, maka yang tersisa hanyalah kesengsaraan belaka.

Jika kita berani mencintai dan dicintai, maka bersiaplah untuk diuji. Sebab cinta tidak begitu saja diterima sebelum benar-benar dibuktikan; apakah cintanya murni atau ternodai.

Tersebutlah satu kisah cinta maha dahsyat yang menggetarkan jiwa. Cinta sepasang insan, Nabi Ibrahim ‘alaihissallaam dan Hajar Ummu Isma’il. Cinta yang diikat dalam bingkai ketakwaan untuk Allah semata.

Wanita pertama yang memakai ikat pinggang

Al-Imam Al-Bukhari rahimahullah berkata,

و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ عَنْ أَيُّوبَ السَّخْتِيَانِيِّ وَكَثِيرِ بْنِ كَثِيرِ بْنِ الْمُطَّلِبِ بْنِ أَبِي وَدَاعَةَ يَزِيدُ أَحَدُهُمَا عَلَى الْآخَرِ عَنْ سَعِيدِ بْنِ جُبَيْرٍ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ

Dan telah bercerita kepadaku ‘Abdullah bin Muhammad, telah bercerita kepada kami ‘Abdur Razzaq, telah mengabarkan kepada kami Ma’mar dari Ayyub as-Sakhtiyaniy dan Katsir bin Katsir bin Al -Muthallib bin Abi Wada’ah satu sama lain saling melengkapi dari Sa’id bin Jubair, berkata Ibnu ‘Abbas radhiyallaahu ‘anhumaa;

أَوَّلَ مَا اتَّخَذَ النِّسَاءُ الْمِنْطَقَ مِنْ قِبَلِ أُمِّ إِسْمَاعِيلَ اتَّخَذَتْ مِنْطَقًا لَتُعَفِّيَ أَثَرَهَا عَلَى سَارَةَ ثُمَّ جَاءَ بِهَا إِبْرَاهِيمُ وَبِابْنِهَا إِسْمَاعِيلَ وَهِيَ تُرْضِعُهُ حَتَّى وَضَعَهُمَا عِنْدَ الْبَيْتِ عِنْدَ دَوْحَةٍ فَوْقَ زَمْزَمَ فِي أَعْلَى الْمَسْجِدِ

“Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah Ummu Isma’il ‘alaihissallaam. Dia menggunakannya untuk menghilangkan jejak dari Sarah. Kemudian Ibrahim ‘alaihissalaam membawanya berserta anaknya Isma’il yang saat itu ibunya masih menyusuinya, hingga Ibrahim ‘Alaihissalam menempatkan keduanya dekat Baitullah (Ka’bah) pada sebuah gubuk di atas zamzam di ujung Masjidil Haram.

وَلَيْسَ بِمَكَّةَ يَوْمَئِذٍ أَحَدٌ وَلَيْسَ بِهَا مَاءٌ فَوَضَعَهُمَا هُنَالِكَ وَوَضَعَ عِنْدَهُمَا جِرَابًا فِيهِ تَمْرٌ وَسِقَاءً فِيهِ مَاءٌ ثُمَّ قَفَّى إِبْرَاهِيمُ مُنْطَلِقًا فَتَبِعَتْهُ أُمُّ إِسْمَاعِيلَ فَقَالَتْ

Waktu itu di Makkah tidak ada seorang pun yang tinggal di sana dan tidak ada pula air. Ibrahim ‘alaihissallaam menempatkan keduanya di sana dan meninggalkan semacam karung berisi kurma dan kantung/geriba berisi air. Kemudian Ibrahim ‘alaihissallaam pergi untuk meninggalkan keduanya. Maka Ummu Isma’il mengikutinya seraya berkata;

يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ

“Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apapun ini”.

فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا وَجَعَلَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا

Ummu Isma’il terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali, hingga akhirnya Ibrahim ‘alaihissallaam tidak menoleh lagi kepadanya.

فَقَالَتْ لَهُ أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا

Akhirnya Ummu Isma’il bertanya; “Apakah Allah yang memerintahkanmu atas semuanya ini?”.

قَالَ نَعَمْ

Ibrahim ‘alaihissallaam menjawab: “Ya”.

قَالَتْ إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا

Ummu Isma’il berkata; “Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami”.

ثُمَّ رَجَعَتْ فَانْطَلَقَ إِبْرَاهِيمُ حَتَّى إِذَا كَانَ عِنْدَ الثَّنِيَّةِ حَيْثُ لَا يَرَوْنَهُ اسْتَقْبَلَ بِوَجْهِهِ الْبَيْتَ ثُمَّ دَعَا بِهَؤُلَاءِ الْكَلِمَاتِ وَرَفَعَ يَدَيْهِ فَقَالَ

Kemudian Ummu Isma’il kembali dan Ibrahim ‘alaihissallaam melanjutkan perjalanannya hingga ketika sampai pada sebuah bukit dan tidak ada yang melihatnya lagi, Ibrahim ‘alaihissallaam menghadap ke arah Ka’bah, lalu berdo’a untuk mereka dengan beberapa kalimat doa dengan mengangkat kedua belah tangannya, katanya:

رَبِّ

إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ حَتَّى بَلَغَ يَشْكُرُونَ

“Rabbi, (“sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian dari keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah-Mu yang disucikan”) hingga sampai kepada (semoga mereka menjadi hamba-hamba yang bersyukur) (QS Ibrahim : 37). (Shahih. HR Al-Bukhari no. 3364)

Penjelasan Kisah

Sebagaimana kita tahu bahwa tujuan pernikahan adalah agar mendapatkan keturunan. Maka Islam mensyariatkan ini. Sarah, istri Nabi Ibrahim ‘alaihissallaam, tak kunjung juga memiliki momongan. Padahal usia pernikahannya dengan Ibrahim ‘alaihissallaam sudah lama. Didorong oleh keinginan untuk memiliki anak, Sarah memberikan Hajar kepada Ibrahim.

Lalu, dari rahim Hajar, lahirlah Ismai’l. Muncullah rasa cemburu dalam diri Sarah. Di Fat-hul Baariy disebutkan bahwa Sarah hendak memotong Hajar beberapa bagian. Karena takut, akhirnya Hajar lari. Ia mengenakan ikat pinggang agar pakaiannya tak mengganggunya saat berlari. Ia juga menjulurkan long dress bagian belakangnya untuk menyapu jejak agar tidak diketahui Sarah.

Atas perintah Allah Ta’aala, Ibrahim ‘alaihissallaam memindahkan Hajar dan anaknya ke suatu lembah yang asing menggunakan buraq. Sesampainya di lembah tersebut, Ibrahim ‘alaihissallaam memberikan bekal secukupnya untuk mereka. Lalu, ia balik kanan untuk kembali ke Palestina. Kemudian terjadilah dialog yang mencerminkan keimanan di dalamnya. Perhatikan kembali dialognya dan resapilah dengan nurani. Hajar Ummu Ismail berkata,

يَا إِبْرَاهِيمُ أَيْنَ تَذْهَبُ وَتَتْرُكُنَا بِهَذَا الْوَادِي الَّذِي لَيْسَ فِيهِ إِنْسٌ وَلَا شَيْءٌ

“Wahai Ibrahim, kamu mau pergi kemana? Apakah kamu (tega) meninggalkan kami di lembah yang tidak ada seorang manusia dan tidak ada sesuatu apapun ini”.

فَقَالَتْ لَهُ ذَلِكَ مِرَارًا وَجَعَلَ لَا يَلْتَفِتُ إِلَيْهَا

Ummu Isma’il terus saja mengulang-ulang pertanyaannya berkali-kali, hingga akhirnya Ibrahim ‘alaihissallaam tidak menoleh lagi kepadanya.

Perhatikanlah! Sangat wajar bila Ummu Isma’il bertanya tentang perbuatan Ibrahim ‘alaihissallaam terhadap dirinya. Tentu setiap isteri akan bertanya hal yang sama ketika dalam keadaan seperti ini. Tapi Ibrahim ‘alaihissallaam tidak menoleh kepadanya. Ia terus berjalan. Hampir habis suara Ummu Isma’il karena mengulang-ulang pertanyaan yang sama. Tapi, lagi-lagi Ibrahim ‘alaihissallaam tidak juga menoleh kepadanya, kepada orang yang ia cintai, kepada tulang sulbi yang telah memberinya keturunan. Akhirnya, Ummu Isma’il bertanya

أَاللَّهُ الَّذِي أَمَرَكَ بِهَذَا

“Apakah Allah yang memerintahkanmu atas semuanya ini?”

Apa jawab Ibrahim ‘alaihissallaam? Na’am, Iya.

Iya wahai Ummu Isma’il. Iya. Allah lah yang memerintahkanku seperti ini. Bukan karena tega meninggalkan anak dan isteri. Bukan. Tapi karena Allah. Karena Allah. Allah!

Sembari menjawab,  Ibrahim ‘alaihissallaam tetap tidak menoleh. Tatapannya lurus ke depan tapi mungkin saja hatinya menangis. Sedih bercampur gundah. Cinta bercampur perintah. Ingin mendekap tapi lebih mengutamakan titah. Cinta Ibrahim ‘alaihissallaam lebih besar kepada Rabbnya. Karena jika ia menoleh, melihat anak dan isterinya, niscaya ia akan berpaling dari perintah Allah, lebih mengutamakan anak dan isterinya.

Lalu, apa tanggapan Ummu Isma’il?

إِذَنْ لَا يُضَيِّعُنَا

“Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami”.

Artinya, baiklah Ibrahim kalau begitu. Lakukankah perintah Allah, Rabbku dan Rabbmu. Rabb yang telah mengikat hati kita dengan cinta. Dan kami akan bersabar serta kami pun yakin, Allah tidak akan menelantarkan hamba-hamba-Nya yang beriman, yang murni cintanya untuk-Nya semata.

Lihatlah tanggapannya. Tanggapan seorang wanita muslimah lagi salihah. Tanggapan seorang wanita yang beriman kepada Allah Jalla wa ‘Alaa. Tanggapan yang tidak akan keluar kecuali dari hati yang yakin lagi cinta kepada Rabbnya. Allah tidak akan menelantarkan kami.

Ibrahim ‘alaihissallaam terus berjalan. Sampai akhrinya ia menghadap arah Ka’bah, seraya menengadahkan kedua tangannya. Melantunkan munajat cinta dan harapannya kepada Allah ‘Azza wa Jalla.

رَبَّنَا إِنِّي أَسْكَنْتُ مِنْ ذُرِّيَّتِي بِوَادٍ غَيْرِ ذِي زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا الصَّلَاةَ فَاجْعَلْ أَفْئِدَةً مِنَ النَّاسِ تَهْوِي إِلَيْهِمْ وَارْزُقْهُمْ مِنَ الثَّمَرَاتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14] : 37)

Faedah Kisah

1. Wanita pertama yang menggunakan ikat pinggang adalah Hajar Ummu Ismail.

2. Ibrahim ‘alaihissallaam mengamankan Hajar Ummu Isma’il beserta anaknya dari amarah Sarah lantaran cemburu, ke wilayah yang asing. Walaupun Sarahlah yang memberikan Hajar untuk Ibrahim ‘alaihissallaam.

3. Kecemburuan Sarah adalah kecemburuan yang manusiawi karena melihat adik madunya telah memiliki anak sedangkan dirinya belum.

4. Jangan satukan dua bulan dalam satu rumah. Sebab akan terjadi “perang saudara”.

5. Mendahulukan perintah Allah lebih diutamakan daripada selain-Nya.

6. Suami hendaklah memberikan bekal secukupnya sebagai nafkah untuk anak dan isterinya.

7. Pentingnya menyandarkan semua urusan dan bertawakal kepada Allah.

8. Pentingnya memiliki tauhid yang benar. Agar tidak mudah berprasangka buruk kepada Dzat Yang Menghidupkan dan Mematikan makhluk.

9. Hendaknya kita senantiasa mendoakan kebaikan bagi keluarga kita.

Referensi:

Fat-hul Baariy Syarh Shahiih Al-Bukhaariy. Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani. Library Islamweb.net

Wallahu a’lam

Barakallahu fiikum

#Day12 #bianglalahijrah #onedayonepost30hrdc #writingchallenge30hrdc #30hariramadhandalamcerita

SHARE:
Bukti Cinta, Kisah, Tauhid 3 Replies to “Saat Cinta Diuji dengan Cinta”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict.

COMMENTS

3 thoughts on “Saat Cinta Diuji dengan Cinta

    Author’s gravatar

    Kalau nggak baca ini, mungkin aku nggak akan pernah tahu kisah cinta bercampur perintah ini.

    Thanka for sharing, kaka 😊

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *