Renita Oktavia

I read so I write

Maret 20, 2019

My Neighbors, My Families

Bismillah

Day 30

Pagi ini, alhamdulillah badanku sudah merasa lebih baik. Lemes dan pusingnya sudah berkurang. Pening di kepala hanya sesekali kurasa kalau pas lagi baca. Baca buku sih, kalau baca uang kertas warna merah bertuliskan “Seratus Ribu Rupiah” sepertinya kepala yang sedang berpendar ini akan hilang xixixi. Terima kasihku untuk orang-orang tercinta yang senantiasa mendoakan kebaikan untukku. Jazaakumullah khair.

Berhubung lagi feeling under weather, aku tidak belanja di abang tukang sayur. Jadi, kuminta suamiku untuk membeli sayur dan lauk yang sudah mateng di warteg. The power of kepepet ini gengs. Dan untuk sarapan, seperti biasa, olahan telur menjadi andalanku. Menunya sih berkutat sekitar telur ceplok, telur dadar, orak arik telur, atau makaroni telur gulung. Gitu terus sampe kuda nil langsing.

Mataku terbelalak tatkala menjumpai sisa telur di kulkas yang hanya cukup untuk sarapan hari ini. Dua butir telur! Yap, cukup nggak cukup, pokoknya harus cukup. Alhasil, dibikin omelette dong. Irit.

Selang beberapa menit setelah memasak, aku PM tetanggaku yang memang berjualan sembako.

“Jeng, aku pesen telur sekilo yah. Dianter nanti sore gpp”

Layar HP ku berkedip-kedip persis seperti aku yang suka berkedip manja di depan suami. Ada pesan WA masuk. Dari tetanggaku.

“Siap, say. Ta’anter sekarang aja ya, kalau sore motornya dipake suami.”

Kubalas, “Iyes 😘.”

HP kuletakkan.

Indahnya berbagi

Begitulah keseharianku kala stock beberapa makanan di rumah habis. Alhamdulillah ada tetangga yang selalu siap sedia kala emak bingung mau masak apa.

Bagi sebagian orang, mungkin mereka lebih suka stock bahan makanan sekaligus di kulkas, misal satu bulan langsung beli telur di supermarket sebanyak satu kontainer. Tapi aku memilih untuk stock beberapa hari saja (khusus telur) dan itupun belinya di tetanggaku. Kenapa nggak di supermarket saja?

Aku meyakini bahwa membeli barang dan makanan di tetangga kita sendiri itu jauh lebih menguntungkan buat kita. Kok bisa? Selain membantu berkembangnya UKM, aku juga bisa menyambung tali kekeluargaan. Jadi jika kami biasanya hanya bertemu sebulan sekali saat arisan PKK, begitu memesan sesuatu maka mau tidak mau kami harus bertatap muka. Dari situ biasanya akan tercipta percakapan ngalor ngidul atau sekedar berbagi tips ala-ala emak yang biasanya dimulai dengan, “Eh jeng….”

Bagaimana kalau harga di tetangga lebih mahal?

Ah, bagiku tak masalah. Lebih mahal seribu, dua ribu atau bahkan mungkin sepuluh ribu, no problem. Nggak ada salahnya kan memberi kebahagiaan kepada orang lain dengan membeli dagangannya setiap saat?

Moral lesson

Tetangga adalah kerabat yang paling dekat dengan kita. Ibaratnya, kalau terjadi apa-apa dengan diri kita, mereka lah orang pertama yang akan menolong kita. Untuk itu, berbuat baiklah kepada tetangga dan bersabar jika ternyata mereka mengganggu kita.

Ingatlah bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari Akhir, maka hendaklah ia memuliakan tetangganya” (Muttafaq ‘alaih).

Selamat memuliakan tetangga.

Barakallahu fiik

Photo credit:

pexels.com/Efdal YILDIZ

SHARE:
Nulis Yuk 5 Replies to “My Neighbors, My Families”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

5 thoughts on “My Neighbors, My Families

    Author’s gravatar

    Iyap, sama. Aku pun lebih suka belanja di warung tetangga. Kalo ke indo/alfa, tujuannya cuma atm . 😊

    Author’s gravatar

    ceritanya simple banget mba..tapi nyentuh. aku setuju, tetangga emang harus dimuliakan. Barakallah mba. thank you mba. Kadang yang simple sering terlupa. Tulisan ini menginspirasi ku.

      Author’s gravatar

      Masya Allah 😍😍😍
      Wa fiiki barakallah mbak. Maaf baru bisa bales. Lagi kena writer’s block jadi belum bisa tengok blog. Jazaakillah khair mbak cantik 🌹🌹

    Author’s gravatar

    Harga telur di tetangga memang standar semua 5000 dapat 3 butir atau kalau mau lebih saya biasa beli setengah karpet (sekitar 20 ribuan). soalnya beli telur di Bengkulu nggak main kiloan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *