Jumat, Mei 24, 2019
Nulis Yuk

A Missing Piece of Puzzle to My Heart

Bismillah

Day 29

Di hari ke dua puluh sembilan menulis diary, tiba-tiba saja ada perasaan rindu menyergap dan memelukku. Bahuku berguncang, mataku mulai memanas, dan bulir-bulir hangat membasahi kedua pipiku. Sejenak wajah bapak dan ibukku rahimahumullah berkelebat di pelupuk mata. Rindu yang membuncah memenuhi dadaku.

Sepucuk surat yang pernah kutuangkan pun rasanya takkan cukup mewakili perasaanku. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba saja hilang dari hidupku. It feels like there’s a missing piece of puzzle to my heart. Sesuatu yang selama ini membuatku sangat nyaman, apalagi kalau bukan kehadiran kedua orang tuaku. Betapa diri ini menginginkan sebuah nasehat dari mereka, sebuah pelukan hangat kala gelisah melanda, sebuah motivasi kala diri ini ingin menyerah.

Mungkin saja sebagian orang akan berkata, “Kan ada mertua? Bukankah mereka orang tuamu juga?”. Tapi aku tak bergeming karena tidak semua orang yang terlihat seperti orang tua kita, mampu mengambil peran sebagai orang tua yang sesungguhnya.

Saat melihatku sibuk mengusap air mata, bujang kecilku tak melepas pandangannya dariku. Matanya yang bersih dari dosa memandangku dengan penuh tanda tanya. Tangan mungilnya berusaha menghapus air mata yang sedari tadi tumpah ruah tak terbendung. Aku tahu ia anak yang penuh empati dan kasih sayang, ia pun lantas berpura-pura menjadi Anta, kucingnya Rara. “Meow…meow…,” aku tuh paling nggak bisa melihat kepolosannya. Seketika itu juga aku tersenyum, mencium, dan memeluknya. Ia membalas pelukanku dengan erat. Diciuminya kedua pipiku. Ah, Masya Allah anakku.

Benar adanya bahwa anak adalah penawar duka. Ia yang selalu datang ke kita meski mungkin kita telah memarahinya. Ia yang selalu membuat kita merasa dibutuhkan.

Aku bersyukur karena memiliki orang tua yang begitu sayang terhadapku. Kalau bukan karena doa mereka lah, aku takkan mungkin mampu berdiri setegar ini. Aku pun bersyukur memiliki putra yang perhatian sama mamanya, yang meski kadang mamanya galak, ia tetap mau memaafkan dan memelukku dengan penuh cinta.

Bapak ibuk…

Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, merahmatinya, melindunginya, memaafkan segala kesalahannya, memuliakan tempat kembalinya, meluaskan alam kuburnya, membersihkan beliau berdua dengan air, salju, dan air yang sejuk, semoga Allah membersihkan beliau dari segala kesalahan sebagaimana Dia telah membersihkan pakaian putih dari kotoran, semoga Allah mengganti rumahnya -di dunia- dengan rumah yang lebih baik -di akhirat- serta mengganti keluarganya -di dunia- dengan keluarga yang lebih baik, semoga Allah memasukkan mereka ke dalam surga-Nya dan melindungi keduanya dari siksa kubur dan siksa api neraka.

Salam takzim dari putri kecilmu yang belum sempat membahagiakan kalian. Semoga kelak Allah mengumpulkan kita di Surga-Nya.

Aamiin Allahumma Aamiin

Barakallahu fiik

Renita Oktavia
<p>A keep-learning mommy who becomes a contributor in estrilook(dot)com.</p>
https://renitaoktavia.com

One thought on “A Missing Piece of Puzzle to My Heart

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top