Maret 17, 2019

The More I Learn, The More I Realize How Little I Know

Bismillah

Day 28

Esok hari, as usual, Insya Allah daku ada kelas Tahsin, gengs. Dan sore tadi baru saja menenggak satu butir obat flu dan batuk. Jujur, gengs… Kepalaku rasanya oleng, udah kayak orang mabok duren kalau jalan. Kutenggak tapi tak over dosis lah. Sejak saat itu, mata rasanya ngantuk berat, merem melek, antara pengen tetep melek atau merem.

Pas mau merem, tiba-tiba teringat, “Astagfirullah, aku belum mengerjakan tugas meringkas Makharij huruf.” Deadline-nya besok pagi karena Rabu kemarin aku mlipir tidak mengerjakan tugas dengan alasan sok sibuk. Akhirnya, dengan semangat 45, aku keluarkan kitab dan pena. Sedangkan aksi mengeloni bocil, kuserahkan pada suami tertjinta.

Sebelum memulai menulis, aku membaca kembali materi yang pernah disampaikan ustadzah-ku. Kubaca lagi kitabnya. Baru kemudian aku tulis sesuai dengan pemahamanku. Karena di satu kitab yang menjadi handout kami selama belajar ada beberapa materi yang kurang lengkap penjelasannya, aku mencari di kitab lain yang dibelikan suamiku. Duh suamiku, baik banget sih, Masya Allah tabarakallah 😘😘

makharij huruf
penampakan emak-emak kalau lagi belajar

Di kitab tersebut, penjelasannya sangat detail dan mudah dipahami. Sampai akhirnya aku terhenti pada satu materi tentang huruf-huruf Ghunnah. Frankly speaking, dulu mungkin saat aku kecil, belajar Tajwid itu ala kadarnya, istilah kasarnya “yang penting tahu”. Tapi hari ini, semakin aku membuka dan mempelajarinya, semakin aku tahu betapa sedikit ilmu yang kumiliki. 😭

Tiga tahapan orang yang berilmu

Biasanya, ketika seseorang mempelajari satu ilmu baru, tersimpan rasa ujub dalam dirinya. Dia merasa bahwa dia orang paling pintar lalu meremehkan orang lain. Dia juga merasa dirinya telah membaca dan menghafal ribuan kitab. Padahal, jika dibandingkan dengan temannya, ia bukanlah siapa-siapa.

tiga tahapan penuntut ilmu
Tiga tahapan orang berilmu

Lalu saat seseorang mencapai tahapan kedua, barulah ia merasa lebih tawadhu’, lebih rendah hati. Ia lebih bersikap fleksibel. Bisa jadi karena ilmunya yang semakin tinggi. Namun tentu saja, itu semua semata-mata karena Allah yang melembutkan hatinya.

Dan di tahapan paling akhir, inilah puncaknya, di tahap ini seseorang merasa bahwa ternyata apa yang dia pelajari selami ini hanyalah setetes tinta di tengah luasnya samudera ilmu. Dia merasa dirinya tidak mengetahui apapun kecuali yang sedikit itu. Ibaratnya, seseorang sednag membuka lembaran kitab. Dia pelajari. Ia lantas membuka lembaran lain, “Lho ternyata begini”, berikutnya ia membuka lembaran baru, “Lho ternyata begitu”. Demikian seterusnya. Semakin ia belajar, semakin banyak ia bilang, “Lho…”.

Kita di tahap yang mana?

Sebagai seorang penuntut ilmu, sudah menjadi kewajibanku untuk memiliki adab dalam menuntut ilmu. Salah satunya adalah bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu dan tidak boleh sombong. Tujuannya agar ilmu yang kita peroleh bisa membawa berkah dan manfaat.

Adapun diriku, aku hanyalah seorang thulaibatul ‘ilm yang sedang berupaya memantaskan diri menjadi ibu yang baik bagi putra putriku. Dari sini aku belajar bahwa the more I learn, the more I realize how little I know. Ilmuku masih sangat dangkal. Kalau nggak belajar, mana mungkin aku bisa tahu betapa ceteknya ilmuku.

Duhai jiwa, bersabarlah dan bersemangatlah dalam menuntut ilmu sebab ilmu takkan didapat dengan jasad yang santai.

Barakallahu fiik

SHARE:
Nulis Yuk 0 Replies to “The More I Learn, The More I Realize How Little I Know”