Jumat, Mei 24, 2019
Nulis Yuk

Suamiku, Jazaakallah Khair

Bismillah

Day 24

Pagi ini aku terbangun dalam keadaan badan berasa remuk redam. Sedikit terlambat bangun pagi sih. Dalam keadaan sadar dan tak sadar, aku mencium aroma yang sangat wangi dari arah dapur. Aku penasaran dong, makanya langsung bangun. Berharapnya udah kayak di dongeng-dongeng fantasi ala ala Princess, siapa tahu yang lagi masak di dapur itu seorang bidadari cantik yang baik hati lalu bilang padaku, “Kakak maduku, sudah kusiapkan makanan untukmu…”. Gubrak. Oh tidaaaakkk…aku masih belum mau berbagi suamiku dengan wanita lain.

Kakiku segera melangkah ke dapur, tak kusangka dan tak kuduga ternyata ada cowok ganteng Masya Allah (Omar Barkan kalah nggak buk? Menang tipissss, gengs xixixi) sedang menyiapkan beberapa piring berisi makanan. Ia pun menoleh ke arahku sambil berkata, “Eh…sayangku udah bangun. Shabahul khair yaa habibatiy.” A good morning kiss mendarat di pipiku. Aku tersenyum. Tangannya menggandeng tanganku. Kami berjalan ke meja makan. Piring-piring itu telah tersaji dan makanan siap disantap. Ada sepiring roti bakar lengkap dengan isinya, segelas susu coklat panas, sepiring martabak telur sisa tadi malam yang ia hangatkan dan sepiring burger mini dengan saus pedas.

“Sayang, hari ini kamu nggak usah masak buat sarapan. Aku sudah menyiapkan semuanya untukmu. Hari ini kamu ada kelas Tahsin kan? Nanti kita makan di warteg aja ya sepulang ngaji. Oh ya, lantai rumah sudah kusapu bersih. Sekarang, nikmati sarapanmu ya. Aku mau siap-siap berangkat ke pondok.”

Dahiku berkernyit dong. This is weird. Kubelai pipinya sambil bertanya, “Are you okay? What this is for? Do you have an axe to grind? Adakah udang di balik batu untuk semua ini?”.

Dia tersenyum dan memelukku.

“Nope. Aku cuma pengen meringankan tugasmu saja. Jazaakillah khair karena mau mendampingiku.”

Duh mak, hatiku meleleh. Itu romantisme Dilan sama Milea kalah deh sama scene yang tadi pagi. Mimpi apa aku semalam xixixi.

***

Suamiku…betapa terkadang aku sangat menjengkelkan hatinya, tapi ia masih tetap memaafkanku. Dan betapa terkadang ia membuatku bersungut-sungut, tapi tetap saja ada seonggok maaf untuknya.

Yah, meski kadang dia nyebelin, ada sisi baik yang ia tunjukkan. Enam tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menyelami pikirannya, mencoba mengartikan dan memahami apa kemauannya. Beberapa pertengkaran pun kadang tak dapat kami hindari, tapi lagi-lagi selalu ada maaf yang terlontar dari dalam hati.

***

Suamiku… Sebagaimana diriku yang penuh dengan kekurangan, demikian pula dirinya. Namun, aku tetap bersyukur memilikinya. Ia yang mengobati luka, melengkapi separuh agamaku, dan berjanji untuk selalu membimbingku berada di atas Qur’an dan Sunnah.

Duhai cinta, jazaakallah khair untuk segenap pengorbanan dan letihmu dalam menggandeng tanganku. Semoga Allah meridhai pernikahan kita. Aamiin Allahumma Aamiin.

Barakallahu fiik

Renita Oktavia
<p>A keep-learning mommy who becomes a contributor in estrilook(dot)com.</p>
https://renitaoktavia.com

One thought on “Suamiku, Jazaakallah Khair

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top