Jumat, Mei 24, 2019
Nulis Yuk

Mengajari Anak Shalat

Bismillah

Day 23

Tingkah anak bayi kadang bisa menjadi pelipur lara dan pengusir penat. Nggak peduli selelah dan seletih apapun kita, begitu melihat kepolosan mereka, rasanya semua kelelahan itu hilang begitu saja. Namun ketika kesehatan mereka terganggu, aduhai betapa pilu dan sedih hati ini melihatnya hingga terkadang berucap, “Biar mama saja yang menggantikan sakitmu, nak”.

Dan sebagai orang tua, aku tentu saja memiliki harapan cita-cita mulia untuk buah hatiku. Aku ingin anakku menjadi orang yang senantiasa mentauhidkan Allah dan menegakkan shalat. Tentu saja, aku dan abahnya berupaya untuk mendidiknya semampu kami. Setiap hari, abahnya akan mengajak tuan muda ke Masjid untuk menunaikan shalat. Kalau hujan ya nggak diajak, meski setelah itu ia akan menangis.

Menanamkan kebiasaan memang paling mudah dilakukan ketika anak masih kecil agar kelak ketika ia tumbuh dewasa, kami tak perlu menyuruhnya. Karena sering ke Masjid itulah, tuan muda mengenal bagaimana mengumandangkan adzan, bagaimana merapatkan shaf, dan bagaimana tata cara shalat. Lucu deh kalau lihat dia meniru gerakan shalat.

Hari ini, saat aku sudah menyelesaikan tugas negara, tuan muda sedang asyik menggambar di ruang tengah dan aku membaca buku. Semua berjalan lancar. Dia lalu menirukan adzan, persis banget kayak muadzin, mulai dari memegang microphone sampai menutup telinga. So far so good.

Karena agak capek duduk di kursi, aku pindah ke kamar sambil bersandar di bantal yabg kutaruh di sisi ranjang. Nyaman banget kalau baca buku kayak gitu.

Dari balik pintu, kulihat dia shalat. Emak lega. Sesekali terdengar takbir yang ia ucapkan. Lega dong ya.

Menit berganti. Suasana sepi. Tidak terdengar suara takbir. Aku curiga. Biasanya sih kalau sepi gitu pasti ada sesuatu yang bikin jantungku berdetak lebih kencang daripada genderang perang. Akhirnya kuberanikan diri untuk keluar kamar. Dan apa yang terjadi, saudara-saudara? Putraku yang gantengnya Masya Allah itu TERTIDUR kala sujud. 😂😂😂

Tanpa banyak omong, kufoto lah ia dalam keadaan tidur. Lalu kukirim ke fansnya di Cepu dan ke abahnya. Sengaja nggak kugendong ke dalam kamar, nunggu abahnya yang 5 menit lagi Insya Allah pulang.

***

Masya Allah tabarakallah, putraku. Memang benar bahwa mengajari anak sedari kecil itu ibarat menulis di atas batu. Tak masalah jika saat ini kami harus bersusah payah membiasakannya agar kelak di akhirat kami tak bersedih hatu karena tak mampu mendidik putra kami.

Barakallahu fiik

Renita Oktavia
<p>A keep-learning mommy who becomes a contributor in estrilook(dot)com.</p>
https://renitaoktavia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top