Renita Oktavia

I read so I write

Maret 10, 2019

Ketika Cinta Tak Berakhir di Pelaminan

Bismillah

Tema: Aku bersyukur atas…

Day 21

Maaf, gaes, diary kali ini masih membahas temenku yang masih terbayang-bayang cinta monyet. Disebut cinta monyet karena cintanya udah nggak ada, jadi tinggal monyetnya aja xixixi. Sedih nggak sih kalau lihat sahabat kita murung terus, ya wajahnya mungkin aja senyum tapi hatinya bisa saja berdarah-darah sembari bercucuran air mata. Duh, nggak tega aku tuh.

Sebagai seorang sahabat yang baik tralala trilili, aku hibur dia dong. Ungkapan There, There, Sweetie rupanya belum cukup mempan membuatnya tersenyum. Haruskah kubelikan Toblerone putih kesukaannya? Ah…tapi mahal xixixi. Jadi hari ini tadi dia ngobrol via WhatsApp sama aku.

“Andai dulu aku nikah sama dia ya, Rhe. Mungkin keadaannya akan berbeda. Mungkin aku akan jauh lebih bahagia,” dia bilang.

Sebenernya pengen ngasih dia meme ini sih:

when love fails


Hahahaha…tapi nggak tega, ntar dia tambah manyun lima senti deh bibirnya. Mmm…aku memutar otak dan berusaha melihatnya dari sudut yang berbeda.

“Ya, mungkin saja keadaannya berbeda. Betul. Tapi kalau bahagia…kayaknya belum tentu deh,” jawabku.

“Belum tentu gimana maksud lo? Kami saling cinta, Rhe! Saling cinta! Lo pernah jatuh cinta nggak sih?” dia mulai nggak terima, saudara-saudara.

“Pernah sih. Tapi coba deh kamu lihat dari sisi yang berbeda. Dan sebagai sahabatmu yang cantik dan paling baik, aku kasih tahu ya, kita nggak boleh bilang ‘seandainya bla bla bla’ maka pasti aku akan bla bla bla’, itu artinya kita menyesal dan memprotes takdir Allah. Hukumnya haram! Istigfar!”

Dia pun langsung ngetik, “Astagfirullah. Ya Allah, Rhe. Aku keceplosan.”

“Gini ya. Bukannya aku nggak paham gimana perasaanmu, aku tahu rasanya pasti sakiiiit banget. Tapi, lihat hikmah semua ini. Kalian sekarang sudah menikah dengan orang yang telah Allah takdirkan untuk kalian. Kenapa? Karena Allah tahu kalau dulu kalian menikah, kalian akan enggan belajar agama, kalian akan menjauh dari Allah. Dan Allah nggak suka itu.”

Dia terdiam. Buktinya tidak ada tulisan “typing…” tapi tetap terlihat online dan langsung centang biru. Aku lanjutkan dong ceramahku.

“Coba pikir lagi. Sekarang lihat dirimu. Masya Allah tambah cantik dengan kerudungmu yang lebar, rajin ikut kajian, ngajinya yang dulu jelek banget sekarang udah bagus, makhraj-nya pas, panjang pendeknya juga mantab. Belum lagi hafalan juz 30 yang mumtaz meski mungkin sekarang dirimu jarang muraja’ah, dasar pemalas, Masya Allah. Aku sebagai sahabatmu bersyukur banget lho. Aku melihat dirimu yang sekarang kayak gini tuh serasa ingin bilang makasih banget sama suamimu. Kerja keras dia mengajarimu agama ini tuh nggak sia-sia. Kamu diajari membaca Al-Qur’an yang baik, kamu dibelikan buku-buku agama buat kamu baca, kamu ingin kemana-mana termasuk ke kajian juga diantar. Kurang apa coba? Dia tuh pengen kamu jadi ibu yang baik buat anak-anakmu sekaligus ingin agar kamu bisa berbakti pada orangtuamu yang qadarullah udah nggak ada.”

Tak ada balasan. Dia lagi mikir kali.

“Lalu sekarang kita lihat si dia. Dari ceritamu, dia pun sekarang udah ngaji, Masya Allah. Tentu itu tak luput dari kerja keras istrinya sebagaimana kalau dari sisi kamu, suamimu yang berperan. Dan semua itu atas izin Allah lho ya. Dia mengaji, dia juga menghafal Qur’an, berangkat taklim, sama seperti kamu. Kalian berubah menjadi lebih baik. Kalian belajar agama bersama meski dengan pasangan kalian masing-masing. Sekarang bayangkan, kalau kalian menikah dalam keadaan belum mengenal dien, kira-kira apakah kalian akan segetol ini belajar agama? Apakah kalian akan menghafal Qur’an dan rajin taklim? Belum tentu kan? Malah bisa jadi kalau dulu kalian menikah, kalian cuma mengejar dunia! Hidup kalian sia-sia! Allah nggak pengen kalian menyesal, Allah sayang banget sama kalian, makanya Allah nggak mau menikahkan kalian saat itu. Kenapa? Karena Allah tahu bagaimana akhirnya. Mungkin bagi kalian, ini sangat menyakitkan. Lihat tuh besi yang terus menerus ditempa api, sakit itu, tapi hasilnya apa? Besi itu bisa bernilai sangat tinggi. Begitu pula dengan kalian berdua. Kalian ditempa dengan sangat menyakitkan. Namun Insya Allah kalian akan bahagia melihat hasil akhir semua ini.”

Percakapan kami hening. Dia lantas mengirim emoticon menangis. Entahlah, apa yang ada dalam pikirannya. Mungkin saja baginya aku sahabat yang nggak banget karena ‘menamparnya’ dengan tamparan yang sangat keras. Tapi tentu saja itu kulakukan sebagai wujud cintaku padanya.

What you can learn when love fails?

Perkara hati memang perkara yang sangat rumit. Benar juga kalau Panglima Tian Feng bilang, “Dari dulu beginilah cinta, deritanya tiada pernah berakhir.” Anak millenials sih nggak bakal tahu siapa itu Panglima Tian Feng.

Hati mana sih yang nggak sakit kalau ternyata orang yang untuknya kita berikan hati dan rasa rindu kita, tiba-tiba dia memilih menikah dengan orang lain. Meski sebenarnya memiliki perasaan yang sama, kadang salah paham membuat urusan terasa sulit. Yang cewek mengira si cowok nggak cinta makanya dia menyembunyikan perasaan dengan berkata, “Aku menganggapmu sebagai kakak.” Adapun yang cowok, karena ‘cuma’ dianggap kakak, ia pun berbalik arah tanpa berani mengutarakan cinta karena khawatir ia akan kehilangan sahabatnya. Ribet kan?

Seringkali kita bertanya-tanya mengapa Allah menempatkan kita pada posisi yang sangat sulit, sampai-sampai untuk bernafas pun terasa sesak. Ada satu analogi bagus, tentang besi. Besi itu jika ‘ditempa’ akan menghasilkan tapal kuda yang nilainya mungkin hanya puluhan ribu. Nilainya akan semakin tinggi jika ia dibentuk menjadi jarum penunjuk arloji ROLEX. Terbayang kan berapa harga arloji ROLEX? Setiap tempaan dan rasa sakit yang dihadapi sang besi setiap menitnya itu menjadikan ia barang yang sangat bernilai, so priceless! Semakin banyak ditempa, dipukul, dan dibakar maka semakin tinggi pula harga jualnya.

Pun demikian dengan kita. Rasa sakit dan ‘tempaan’ yang sangat keras dari Allah, semata-mata demi kebaikan diri kita sendiri. Dari situlah akan terbentuk karakter yang sesungguhnya. “Tapi kan itu sakit banget”, iya tahu, sakit banget memang, tapi percayalah, bertahanlah sedikit lagi, tinggal sedikiiiiiit lagi.

***

Alhamdulillah, hari ini aku belajar banyak. Ternyata aku bisa bijak juga ya hahahaha. Dan aku bersyukur atas semua tempaan yang Allah berikan padaku. Jika bukan karena Allah, aku tidak akan menjadi seperti yang saat ini.

PS. Untuk sahabatku, aku sangat menyayangimu. You’re indeed a great woman.

Barakallahu fiik

SHARE:
Nulis Yuk 3 Replies to “Ketika Cinta Tak Berakhir di Pelaminan”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict.

COMMENTS

3 thoughts on “Ketika Cinta Tak Berakhir di Pelaminan

    Author’s gravatar

    Tralala tralili jadi ingat pengalaman pribadi. Saya pun pernah suka sama suka dengan seseorang yang kemudian tidak disukai orangtua. Maksudnya saya tidak disukai ortunya (kasiaan :D)
    Tapi namanya juga nggak jodoh, ya nggak apa2. Apa pun yang dipilihkan Allah itu yang terbaik.

      Author’s gravatar

      Xixixi betul mbak. Yang baik menurut kita belum tentu baik di mata Allah

    […] contoh lain lagi? Bagi kalian yang sedang jatuh cinta tapi takdir tak berpihak pada kalian, apa yang akan kalian lakukan? Menangisinya atau menertawakannya? Hidup […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *