Februari 24, 2019

International Mother Language Day: Menjaga Bahasa Ibu (Bahasa Daerah), Menjaga Warisan Budaya

Bismillah

Did you know?

Tanggal 21 Februari setiap tahunnya diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day) lho. Namun, sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita tahu apa sih bahasa ibu?

Apa itu bahasa ibu?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bahasa ibu atau yang biasa disebut mother tongue dalam bahasa Inggris adalah bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak ia lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Pemerolehan bahasa pertama seorang anak terjadi ketika ia yang pada awalnya tidak memiliki bahasa kini ia memperoleh bahasa. Dan biasanya bahasa daerah menjadi bahasa pertama yang dikenal anak sebagai bahasa pengantar dalam keluarga. Bahasa ini dinamakan bahasa ibu (B1) dan dikuasai secara intuitif, jadi bukan dengan belajar di sekolah atau lembaga formal.

Di Indonesia, meskipun bahasa Indonesia digunakan oleh 90% masyarakatnya, ternyata bahasa Indonesia bukanlah bahasa ibu bagi sebagian besar penuturnya. Mereka menggunakan bahasa daerah sebagai ibu.

Dilansir dari lembaga riset linguistik dan telaah bahasa Ethnologue pada tanggal 23 Februari 2019, Indonesia menjadi negara kedua dengan jumlah bahasa terbanyak, yaitu sekitar 710 bahasa. Namun, Ethnologue menyebut lebih detail bahwa tercatat Indonesia memiliki 719 bahasa daerah, 707 di antaranya masih aktif dituturkan. Dari ke 707 bahasa daerah yang masih aktif dituturkan tersebut, 347 bahasa terancam punah dan 81 lainnya telah punah. Sebuah kehilangan yang sangat besar, bukan? Padahal seiring dengan hilangnya suatu bahasa, maka hilang pulalah warisan budaya dan kearifan lokalnya.

bahasa ibu



languages of the world


Bahasa ibu di mata generasi milenial

Penetrasi bahasa Indonesia yang relatif lebih cepat dalam berbagai bidang, membuat bahasa daerah menjadi tersisih. Kalau boleh dibilang, bahasa daerah menjadi bahasa kelas dua. Terlebih bagi generasi milenial yang mungkin saat ini mereka tidak paham dengan bahasa daerah mereka sendiri.

Bahasa daerah dianggap bahasa terbelakang, simbol kebodohan, dan udik. The millenials yang konon katanya memiliki ciri khas tersendiri seperti lahir saat era TV berwarna, gawai dan internet telah ada, sepertinya mulai meninggalkan bahasa daerahnya. Sebagian generasi melek teknologi ini menganggap bahwa bahasa daerah hanya akan menghambat kemajuan mereka, bahasa daerah tidak bisa digunakan untuk berkomunikasi dengan dunia luar. Apa akibatnya? Penutur bahasa daerah berkurang dan kabar buruknya adalah, bahasa daerah terancam punah.

Penyebab punahnya bahasa ibu (bahasa daerah)

“Ketika sebuah bahasa punah, dunia kehilangan warisan yang sangat berharga. Sejumlah besar legenda, puisi dan pengetahuan yang terhimpun dari generasi ke generasi akan ikut punah,”

— dikutip dari UNESCO

Secara garis besar, punahnya suatu bahasa, dalam hal ini bahasa ibu (bahasa daerah) di Indonesia, disebabkan oleh beberapa hal, yaitu:

1. Dominasi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa Inggris sebagai bahasa Internasional

Gencarnya penggunaan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris di Indonesia, sedikit banyak akan mempengaruhi eksistensi bahasa daerah. Sebagian orang merasa lebih oke, lebih gaul jika menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris dalam pergaulan mereka sehari-hari.

2. Kurangnya loyalitas masyarakat terhadap bahasanya

Sebagian masyarakat kita masih kesulitan dalam memahami mengapa suatu bahasa daerah ini perlu dilestarikan. Adanya stigma bahwa bahasa daerah itu kuno, tidak keren, dan tidak ada manfaat ekonomi yang didapat dengan menguasai bahasa daerah.  Padahal dalam bahasa daerah lah, kita bisa menemukan warisan perangkat pengetahuan, di antaranya adalah pendidikan karakter. Kearifan lokal pun terbentuk di dalamnya. Kehilangan bahasa daerah, berarti kehilangan warisan budaya dan kearifan lokal.

Saya ambil contoh satu istilah dalam bahasa Jawa yang berkaitan tentang kehidupan dimana di dalamnya mengandung pelajaran sangat penting. Memayu Hayuning Bawana, Ambrasta dur Hangkara. Maksudnya adalah hendaknya kita sebagai manusia yang hidup di muka bumi ini harus selalu mengusahakan keselamatan dan kebahagian; serta menjauhkan diri dari sikap angakara yaitu serakah dan tamak. Tidak banyak yang tahu istilah ini, terutama generasi milenial.

International Mother Language Day sebagai tonggak penyelamatan bahasa dunia dari kepunahan

Tidak banyak yang tahu tentang International Mother Language Day. UNESCO (United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization) sebagai bagian dari badan PBB menetapkan tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional. Penetapan tanggal tersebut bukan tanpa alasan.

Tanggal 17 November 1999, UNESCO, untuk pertama kalinya mengumumkan gagasan Hari Bahasa Ibu Internasional. Gagasan tersebut pun diakui secara resmi oleh Majelis Umum PBB. Perlu diketahui bahwa penggagas awal Hari Ibu Internasional ini berasal dari Bangladesh. Adalah Rafiqul Islam, seorang pria berkebangsaan Bangladesh yang tinggal di Vancouver, Kanada. Dia mengirim surat untuk Kofi Annan pada tanggal 9 Januari 1998 dan memintanya untuk mengambil langkah menyelamtkn bahasa dunia dari kepunahan dengan mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu International (International Mother Language Day).

Shaheed Minar monument yang dibangun untuk mengenang peristiwa pembunuhan dalam peristiwa Bengali Language Movement di Dhaka, Bangladesh pada tahun 1952 (sumber: wikipedia)

Rafiq memilih tanggal 21 Februari sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional untuk memperingati peristiwa pembunuhan pada tahun 1952 di Dhaka dalam memperjuangkan bahasa Bangli. Akhirnya, dipilihlah tanggal tersebut sebagai momentum penting bagi penyelamatan bahasa dunia dari kepunahan.

Bengali Language Movement pada tanggal 21 Februari 1952 yang menjadi cikal bakal International Mother Language Day (sumber: banglapedia.org)

Upaya pelestarian agar bahasa ibu tetap eksis di kalangan generasi milenial

Seperti yang telah dijelaskan di atas bagaimana sebagian generasi milenial memandang bahasa daerah sebagai bahasa yang kuno dan tidak memiliki masa depan yang jelas. Ditambah lagi dengan ancaman kepunahan bahasa akibat hilangnya jumlah penutur asli bahasa daerah, maka kita wajib melakukan berbagai upaya untuk melestarikan bahasa daerah, terutama di kalangan generasi milenial. Terlebih, saat ini mungkin bahasa daerah tidak lagi diajarkan di sekolah.

Apa saja yang bisa kita lakukan?

1. Mengubah stigma negatif tentang bahasa daerah

Tidak selamanya bahasa daerah itu buruk dan kuno. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya jurusan Bahasa dan Sastra Jawa di Universitas Leiden, Belanda. Australia National University mengajarkan bahasa Jawa dalam mata kuliah drama berbahasa Jawa. Selain itu, dilansir dari BBC Indonesia, bandara Internasional Dubai menggunakan bahasa Jawa dalam pengumuman informasi penerbangannya.

2. Memanfaatkan media sosial

Perkembangan teknologi yang sangat pesat dan mengingat bagaimana hebatnya generasi milenial yang melek teknologi, maka kita bisa memanfaatkan media sosial sebagai lahan pelestarian bahasa daerah. Apa misal? Kita bisa mendirikan grup-grup budaya di media sosial dimana anggotanya bisa sharing, diskusi atau hanya sekedar berbagi kenangan dengan menggunakan bahasa daerah mereka.

3. Orangtua dan masyarakat berperan aktif

Jika satu bahasa daerah tidak diberikan di sekolah, maka pemerolehan bahasa ibu bisa diambil alih oleh orangtua di rumah dan masyarakat dimana seorang anak tinggal. Inilah sikap pemilik bahasa itu sendiri yang menentukan agar suatu bahasa tetap eksis di kalangan generasi muda.

Refleksi

Bahasa tidak hanya tentang pengucapan bunyi dan media untuk berkomunikasi. Lebih dari itu, bahasa adalah jendela untuk melihat realitas kehidupan. Bahasa juga piranti mental yang digunakan untuk mengembangkan cara berpikir. Anak akan belajar bagaimana mengungkapkan perasaan dan pikiran; serta bagaimana memecahkan masalah lewat pewarisan bahasa ibu (bahasa daerah) yang sempurna.

Lewat bahasa daerah, pendidikan karakter tertanam di dalamnya. Bahasa-bahasa daerah di Indonesia menyimpan kekayaan budaya wilayah masing-masing, seperti bagaimana sikap yang benar ketika berbicara dengan orang yang lebih tua, bagaimana memilih kosa kata yang tepat untuk orang yang usianya jauh di atas kita, itu semua akan terlihat lewat penguasaan bahasa daerah yang baik.

Upaya melestarikan bahasa daerah dari kepunahan adalah tanggung jawab kita semua. Dalam hal ini, pemerintah juga dituntut melakukan revitalisasi bahasa agar warisan budaya dan kearifan lokal yang terdapat dalam bahasa daerah bisa diselamatkan.

Bahasa daerah adalah identitas kita, kearifan lokal, dan warisan budaya nenek moyang. Menyelamatkannya berarti menyelamatkan peradaban. Selamat Hari Bahasa Ibu Internasional.

Barakallahu fiik

Sumber:

1. www.ethnologue.com

2. www.wikipedia.org

3. www.bbc.com

4. kbbi.kemdikbud.go.id

SHARE:
Random Thought 0 Replies to “International Mother Language Day: Menjaga Bahasa Ibu (Bahasa Daerah), Menjaga Warisan Budaya”