Renita Oktavia

I read so I write

Februari 22, 2019

Wanita Akhir Zaman

Bismillah

Day 5

Jumat pagi tadi ada sedikit insiden kecil yang lumayan bikin hati sebel. Bagaimana tidak? Setelah batitaku selesai membantu abahnya membersihkan kolam ikan, suamiku memintaku untuk segera memandikan si kecil, sementara dia membereskan peralatannya. Sebagai istri dan ibu yang baik tralala trilili, aku pun langsung menyalakan kompor dan memasak air untuk mandi jagoanku. Sambil menunggu air matang, aku mencoba membuka gawai suamiku untuk melihat apakah Ms. Word di gawainya memiliki fitur lengkap seperti di laptop karena hari ini aku berencana mengirim naskah antologi kisah hijrah dan qadarullah laptop-nya rusak. Nah, karena screen lock-nya berubah, aku lantas menanyakan pola screen lock-nya apa dong ya.

Alih-alih mendapat jawaban yang menyenangkan, eh dia malah menaikkan nadanya satu oktaf, dia bilang untuk apa aku tanya, bukankah lebih baik memandikan bocil. Jelas aku nggak terima karena aku sedang memasak air. Lhah dia kembali menaikkan nadanya, kali ini dua oktaf, dia bilang kenapa aku suka main gawai. Duh, apa susahnya sih jawab pertanyaanku? Pikirku. Kujelaskan semuanya, dia masih ngotot sambil memberitahukan pola screen lock gawainya. Aku udah nggak mood. Otomatis mulut ini ngomel.

wanita akhir zaman

Sebel nggak sih digituin? Tanya baik-baik malah dijawab dengan nada satu sampai dua oktaf. Dan biasanya…biasanya nih, kalau perempuan udah bad mood level tinggi, ingatannya tentang sejarah masa lalu pun kembali diputar. Aku juga gitu? Iyalah.

Menikah adalah seni mengalah

Tahu apa yang selanjutnya terjadi? Aku ngambek. Diem. Butuh waktu agak lama untuk mencair kalau aku udah ngambek. Pffftttt….

Dia, laki-laki yang pagi tadi sangat menyebalkan itu perlahan mendekatiku, duduk bersimpuh di hadapanku sembari memegang jemariku. Aku tolak dong ya, gengsi dong kalau sampai dia bisa meraihnya dengan lancar jaya.

Eh tiba-tiba dia memelukku sambil meminta maaf. Duh. Padahal aku kan lagi ngambek. Mataku terasa panas dan buliran hangat perlahan membasahi pipiku.

wanita akhir zaman
huhuhu sukaaa nangis kalau lihat gambar ini

“Aku minta maaf kalau udah bikin kamu sebel tadi,” demikian rengeknya.

Dan entah mengapa aku merasa tenang gitu kalau berada di pelukannya. Aku nggak tahu harus berkata apa. Tapi dia selalu punya cara untuk mengalah. Dia selalu memenangkan hatiku kala kami berselisih paham. Aku merasa bahwa aku sangat penting buat dia sampai-sampai dia harus meminta maaf, padahal terkadang aku marah dan maunya menang sendiri.

Kontemplasi

Riak dalam rumah tangga adalah hal yang biasa terjadi. Dua manusia yang berbeda latar belakang hidup dalam satu ikatan suci dimana gesekan pasti akan terjadi. Seninya adalah bagaimana mempertahankan cinta kala badai menyapa. Memiliki suami atau istri yang benar-benar sempurna dan hebat justru akan membuat kita tersentak dari alpa.

seni berumahtangga
so sweet banget kan?

Aku bukanlah Khadijah yang sempurna dalam menjaga, pun bukan Hajar yang setia dalam sengsara. Aku hanyalah wanita akhir zaman yang belajar menjadi istri shalihah. Aamiin.

PS. Dear suamiku, maafkan aku yang terkadang menjengkelkan hatimu. Satu yang pasti, aku mencintaimu.

Barakallahu fiik

SHARE:
Nulis Yuk 2 Replies to “Wanita Akhir Zaman”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “Wanita Akhir Zaman

    Author’s gravatar

    Menikah adalah seni mengalah, semoga bisa dapatkan pasangan yg bsa mengerti kurang dan lebih satu sama lain. Aamiin. Makasih sharingnya mbak, dalem banget. Salam kenal juga ya mbak 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *