Renita Oktavia

I read so I write

Februari 18, 2019

Sebab Ilmu Takkan Didapat dengan Jasad yang Santai

Bismillah

Ibu, jika kau masih malas belajar, lalu dengan apa kau didik anakmu? Sebab ilmu takkan diperoleh dengan jasad yang santai (tidak bersungguh-sunguh) dalam mencarinya.

renitaoktavia.com

Aku menyambut hari Senin dengan suka cita. Dimulai ketika menghaturkan sujud syukurku kepada Rabb ku. Lantunan dzikir membantuku mengisi ulang kepayahan yang kemarin kurasakan. Aku pun berazam untuk menjalani hari ini dengan lebih baik.

Sebagaimana hari Senin seperti minggu lalu, aku menyiapkan segala sesuatu untuk suami dan anak lelakiku. Hari ini abang tukang sayur qadarullah nggak jualan, sedikit bingung sih kira-kira mau masak apa karena persediaan sayuran di kulkas udah habis. Akhirnya, aku memutuskan untuk beli sayur dan lauk di warteg. Yah…kalau bukan aku yang membantu ibu warteg menghabiskan dagangannya, lalu siapa lagi dong? Hehehe. Lagipula, jam 09.00 tepat aku harus hadir dalam Halaqah Tahsin. Ya, setiap Senin aku belajar Tahsin bersama sahabat-sahabat shalihahku di Griya Tartila. Kami berada dalam kelas Makhraj yang mempelajari ilmu Tajwid. Seru lho belajar bersama kawan-kawan senasib (baca: sesama ibu). Kami belajar Tajwid sambil membawa anak yang kadang nggak bisa diam, adaaa aja yang mereka lakukan. Tapi, justru disitulah seninya.

Alasanku menuntut ilmu

Eh, mungkin terdengar aneh, kenapa aku harus bersusah payah belajar Tajwid segala. Cukup sederhana saja, karena aku seorang ibu yang menginginkan putranya menjadi seorang penghafal Al-Qur’an. Bagaimana mungkin anakku bisa membaca dan menghafalkan Al-Qur’an dengan baik jika ibunya saja tak paham ilmu Tajwid? Bukankah Al-ummu madrasatul ula (Ibu adalah sekolah utama)? Dari ibulah, anak belajar segalanya. Dari ibulah, pondasi keagamaan anak akan terbentuk. Itulah yang menguatkan tekadku untuk terus belajar agama ini.

Yah, memang kadang rasanya capek sih tapi ilmu tidak akan didapat dengan jasad yang santai (tidak bersungguh-sungguh). Ada satu perkataan bagus dari Imam Syafi’i rahimahullah yang terus terpatri dalam dadaku bahwa orang yang menanggung letihnya menuntut ilmu adalah orang yang kelak akan beruntung dengan ilmunya. Masya Allah banget ‘kan?

Aku jadi teringat nih dengan perkataan ulama hadits terkemuka, Al Bukhari, yang beliau ambil dari firman Allah Ta’ala dalam QS. Muhammad ayat 19 bahwa kita harus mengilmui sesuatu terlebih dahulu sebelum berkata dan beramal. Jadi, kalau aku ingin mengajari anakku membaca Al-Qur’an ya aku harus menguasai dulu bagaimana Tajwid-nya, bagaimana makharijul huruf-nya, bagaimana sifat-sifat huruf dan sebagainya.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush shalihaat. Aku bersyukur untuk hari ini. Aku bisa belajar di saat orang lain mungkin qadarullah belum diberi kesempatan belajar.

Barakallahu fiik

SHARE:
Adab, Bukti Cinta, Nulis Yuk 3 Replies to “Sebab Ilmu Takkan Didapat dengan Jasad yang Santai”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

3 thoughts on “Sebab Ilmu Takkan Didapat dengan Jasad yang Santai

    […] Harus ada konsekuensi yang kita terima. Ingin pintar menulis, ya harus tahu ilmunya. Sedangkan ilmu itu tidak diperoleh secara free, pun tidak akan didapat dengan jasad yang santai. Jadi harus […]

    Author’s gravatar

    Barakallahu mbak, yup..sebagai ibu kita harus banyak belajar sehingga ketika membersamai anak-anak lebih bermakna. Salam kenal mbak 🙂

      Author’s gravatar

      Wa fiiki barakallah mbak.Novy 🤗🤗
      Betul sekali, semoga kita istiqamah dalam belajar ya mbak. Aamiin.

      Salam kenal balik mbak 😘

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *