Selasa, Februari 19, 2019
Blog Competition(s)

Merencanakan Umur Kedua dengan Menjadi Narablog

Narablog di era digital
Bismillah


Setelah memutuskan untuk hijrah sekitar tujuh tahun silam, kehidupan saya berubah. Dari yang dulunya saya memakai celana lalu beralih ke gamis lebar. Dari yang dulunya berhijab pendek dan gaul lalu beralih ke jilbab besar hingga becadar. Yang dulunya kalau mengaji masih belepotan, alhamdulillah sekarang mulai tertata.
Pun demikian setelah menikah. Dulu terbiasa menjadi wanita karir lalu setelah menikah mengabdikan diri untuk anak dan suami. Dulu selalu mengambil keputusan dengan pertimbangan dari orang tua lalu setelah menikah harus berdiskusi dengan suami. Dulu kemana-mana bisa pergi sendiri, sekarang harus atas izin suami.
Tidak mudah melakukan semua itu. Menata hati lah salah satu kuncinya. Hal yang sama juga berlaku saat saya bertekad untuk belajar agama karena saya berprinsip bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anak, jika seorang ibu tidak paham agama lalu bagaimana ia akan menyiapkan generasi terbaik bagi peradaban manusia?
Saya terus memacu diri untuk mengikuti kajian rutin di dekat tempat tinggal saya. Alhamdulillah suami mendukung dan memuji usaha saya. Pertemanan saya dengan kawan-kawan shalihah pun bertambah. Rasanya menyenangkan bisa duduk dan belajar agama bersama.
Waktu berlalu hingga akhirnya saya tersadar bahwa pelajaran yang saya dapatkan selama kajian rasanya sayang jika harus dipendam sendiri. Saya pun berpikir bagaimana caranya agar orang lain mendapatkan manfaat yang sama.
“Ini harus ditulis!” kata saya.
Mulai Menulis Blog

Berbekal catatan kajian dan buku-buku agama yang disediakan oleh suami, saya memulai sebuah babak baru dalam kehidupan saya, menjadi seorang narablog.  


Tema yang saya pilih untuk blog saya adalah Sirah Nabawiyah, sesuatu yang mungkin jarang dilirik oleh para blogger. Mengapa saya memilih tema tersebut? Karena di antara kekurangan kaum Muslimin adalah kurangnya perhatian mereka pada perjalanan hidup Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Padahal beliau adalah teladan terbaik sepanjang zaman. Segala hal telah beliau ajarkan mulai dari bagaimana mendidik anak sampai ke hal-hal yang mungkin kita anggap sepele seperti adab buang hajat, dan sebagainya.


Meski demikian, saya tidak sembarangan dalam menulis. Sebelum tulisan saya tayang, saya pastikan bahwa apa yang saya tulis tersebut telah sesuai dengan Qur’an dan Sunnah. Saya tidak ingin pembaca memperoleh ilmu yang tidak berlandaskan Qur’an dan Sunnah.


Dan untuk mendukung aktivitas blogging saya, saya pun bergabung ke dalam komunitas blogger karena sebagaimana makanan yang hambar tanpa garam, pun demikian dengan seorang narablog yang tidak ikut serta dalam sebuah komunitas. 


Kali pertama saya gabung di Kumpulan Emak Blogger (KEB) lalu Blogger Perempuan Network (BPN), Mom Blogger Community (MBC), dan Blogger Muslimah Indonesia. Lewat Mom Blogger Community lah, alhamdulillah tulisan saya terpilih sebagai pemenang Thematic Organic Blog Post bulan Desember 2018. Di Blogger Perempuan Network, saya mampu menyelesaikan tantangan 30 hari menulis. Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimush shalihaat.

Umur yang Kedua

Menulis blog, bagi saya, bukan tanpa pertimbangan. Dan jika ditanya apa saja yang mendorong saya menjadi seorang narablog, berikut adalah jawabannya.

1. Mengikat ilmu

Tidak bisa dipungkiri bahwa kita semua termasuk thalibul ‘ilm atau penuntut ilmu. Dan senjata utama bagi para penuntut ilmu adalah pena. Sebagaimana Sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Ikatlah ilmu dengan menulisnya”, maka demikianlah dengan diri saya. Ilmu yang saya peroleh di kajian, saya tuliskan di sini. Saya posisikan diri saya seperti pembaca yang benar-benar awam agar mudah dalam penyampaiannya.




Pemilihan kata yang sederhana dan tidak menggurui adalah prioritas menulis saya. Alasannya sangat sederhana, yaitu agar orang tertarik belajar agama. Kadang orang bersikap antipati begitu mendengar kata “belajar agama” karena yang ada di benak mereka adalah rentetan kalimat yang berat dan kaku. Nah, saya ingin mengubah kesan ini, saya ingin orang tanpa sadar bahwa mereka telah belajar agama.


2. Perpustakaan pribadi

Bagi saya, blog bisa menjadi salah satu aset yang luar biasa. Harta benda saya bisa saja hilang, buku-buku saya bisa saja rusak, tapi tidak dengan blog, Insya Allah. Blog ini akan terus ada, menyajikan setiap hal yang ingin diketahui banyak orang.


3. Usia yang kedua

Imam Bukhari meninggal pada tahun 256 H, di usia 62 tahun. Usia penulisnya hanya 60-an tahun, tapi Kitab Shahih Bukhari usianya lebih dari 1100 tahun. Itulah yang saya sebut sebagai umur kedua. Jasad para ulama telah dikubur di dalam tanah tapi mereka tetap hidup dengan karyanya.

Dan itulah yang saya pikirkan. Saya ingin memiliki karya yang bisa bermanfaat bagi ummat saat nafas saya telah berhenti di kerongkongan. Karena mau tidak mau, suka tidak suka, pemilik blog ini akan kembali kepada Rabb-nya.

Harapan di tahun 2019

When there is hope, life begins.

Harapan bagi seorang narablog pemula seperti saya membuat semangat nge-blog menggebu. Meski untuk meraihnya, saya tidak mau terlalu ngoyo. Saya mencoba menikmati setiap proses menulis yang ada dalam diri saya. Saya biarkan kertas berpena sesuai dengan kemampuannya.


Dan bila dirinci, inilah harapan saya di tahun 2019 sebagai seorang blogger:

1. Ingin menghasilkan uang dari blog

Menulis adalah passion saya dan rasanya akan sangat menyenangkan kalau bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dari sesuatu yang saya tekuni.

Untuk itulah saat ini saya mengikuti kelas menulis online agar kemampuan menulis saya semakin terasah dan menjadi lebih baik.


2. Blog masuk dalam Yufid Islamic Search Engine
Salah satu keinginan terbesar saya adalah blog saya bisa nongkrong di laman Yufid dan bermanfaat bagi orang lain. Sampai detik ini masih menunggu e-mail konfirmasi dari pihak Yufid. Doakan ya.


***
Berdakwah lewat tulisan? Mengapa tidak? Tak perlu menunggu menjadi seorang ustadz atau ustadzah, tuliskan saja apa yang kita dapat selama belajar bersama ustadz atau ustadzah. Karena kita tidak tahu siapa yang akan tersentuh hidayah lewat tulisan kita. Dan bukankah hal itu akan menjadi pemberat amal kelak ketika kita menghadap Allah Ta’ala?


Semoga bermanfaat.


Barakallahu fiik.

Sumber foto: pexels.com


Renita Oktavia
<p>Ibu dari seorang batita</p>
https://renitaoktavia.com

5 thoughts on “Merencanakan Umur Kedua dengan Menjadi Narablog

  1. ahhhh cakep mbaaak,
    barakallah
    salam kenal,
    aku lagi liatin semua peserta kompetisi blog nodi lewat tagar di ig dan nemu ini,
    aku haru baca tujuan mbak, karena aku pun berpikir seperti itu berdakwah lewat tulisan.
    semangat!
    doakan aku juga kelar ya dan bisa ngepost untuk kompetisi ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top