Senin, Juni 17, 2019
Aqidah

Jangan Menyerupai Keledai

Bismillah


Apa yang ada dalam pikiran kita tatkala kita mendengar atau membaca tentang keledai? Tentunya akan jelas terpampang dalam benak kita suatu gambaran bahwa keledai adalah hewan yang dungu dan bebal.
Masyarakat Arab menganggap keledai sebagai binatang yang memiliki sifat dungu. Dungu (hamaqah) ini jauh lebih buruk daripada jahalah (kebodohan). Mengapa demikian? Karena kebodohan bisa berubah menjadi lebih baik dan pintar ketika diajari suatu ilmu. Sedangkan dungu, ya dungu, dungunya mengkristal, ilmu sebaik dan sebanyak apapun tidak akan mengubahnya menjadi lebih pintar.


Al-Qur’an menjadikan keledai sebagai perumpamaan agar manusia mengambil pelajaran atasnya.


Mari kita telusuri beberapa Surat yang menggambarkan kedunguan keledai.

1. Keledai mempunyai suara yang paling buruk.

Hal ini disebutkan dalam QS. Luqman ayat 19:

Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.”

Ayat tersebut merupakan nasehat Luqman untuk anaknya agar bersikap tawadhu’ dan tidak meninggikan suara untuk sesuatu yang tidak ada manfaatnya ketika berbicara. Ia pun memberi perumpamaan dengan suara keledai yang buruk.


2. Lari dari syariat Allah

“…Maka mengapa mereka (orang-orang kafir) berpaling dari peringatan (Allah)?, seakan-akan mereka itu keledai liar yang lari terkejut, lari daripada singa.” (Al-Mudatsir: 49-51)

Kalau kita buka tafsir QS. Al Mudatsir ayat 49-51 dalam tafsir Ibnu Katsir, orang-orang yang antipati dan berpaling dari syariat Allah itu seperti keledai yang lari ketakutan karena ia diintai oleh hewan pemangsanya yaitu singa.
3. Memiliki ilmu yang baik tapi tidak bemanfaat baginya.

Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat, kemudian mereka tidak memikulnya adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.” (QS. Al Jumuah ayat 5)



Masih dalam tafsir Ibnu Katsir, dalam ayat ini Allah Ta’ala mencela kaum Yahudi yang diberi kitab Taurat untuk diamalkan. Akan tetapi, mereka tidak menunaikannya. Mereka diibaratkan seekor keledai yang memikul banyak kitab tebal tapi sama sekali tidak memahami apa yang dibawanya. Karena memang keledai hanya mampu membawanya saja kesana kemari tanpa dapat membedakan muatan apa yang telah ia bawa.

Pun demikian dengan mereka yang diberi Al Kitab. Mereka tidak mampu mengamalkan pesan-pesan, perintah, dan larangan yang ada di dalamnya. Bahkan mereka mengutak-atik isi kitab yang telah diberikan kepadanya sesuai dengan hawa nafsu mereka.

Orang-orang tersebut jauh lebih buruk keadaannya dibandingkan keledai. Kenapa? Karena mereka manusia yang diberikan akal dan pikiran tapi tak mampu menggunakannya, sedangkan keledai adalah hewan yang tak memiliki akal.

Gimana, sob? Tertarik menjadi ‘keledai’?


Barakallahu fiik
Photo credit:

magnoliarouge.com
Renita Oktavia
<p>A keep-learning mommy who becomes a contributor in estrilook(dot)com.</p>
https://renitaoktavia.com

4 thoughts on “Jangan Menyerupai Keledai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top