Selasa, Februari 19, 2019
Kisah

Sapi Betina dan Kaum Yahudi yang Terlalu Banyak Bertanya

Bismillah


Alkisah, pada zaman Nabi Musa ‘alaihissalam, kaum Yahudi atau Bani Israil diperintah oleh Allah Ta’ala agar menyembelih seekor sapi betina karena pada saat itu telah terjadi pembunugan terhadap salah seorang warga mereka. Tidak ada seorang pun yang tahu.


Bani Israil publn saling menuduh satu sama lain. Karena itulah, mereka menemui Nabi Musa ‘alaihissalam. Allah pun menyuruh Nabi Musa ‘alaihissalam agar memberitahu kaumnya agar mereka menyembelih seekor sapi betina. Tujuannya tentu saja agar diketahui siapa pembunuh yang sebenarnya.


Setelah turun perintah dari Allah Ta’ala, kaum Yahudi pun bertanya seperti apa kira-kira sapi betinanya. Allah pun menjelaskan bahwa sapi tersebut adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak pula muda, artinya umur sapi tersebut pertengahan.


Kaum Yahudi bertanya lagi tentang warna sapi tersebut. Allah pun menjawab bahwa warna sapi betina itu kuning tua dan sedap dipandang.


Bani Israil pun masih terus bertanya, bagaimana sebenarnya hakikat sapi betina itu karena mereka merasa masih samar. Maka Allah menjelaskan kepada mereka bahwa sapi betina itu adalah sapi yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah, tidak pula dipakai untuk mengairi tanaman, tidak memiliki cacat sedikit pun, dan tidak memiliki belang.


Setelah merasa puas dengan apa yang mereka tanyakan, bani Israil pun berkata kepada Nabi Musa ‘alaihissalam, “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya.”


Bani Israil mencari kesana kemari sapi betina yang telah disebutkan oleh Nabi Musa ‘alaihissalam. Mereka merasa kesulitan mencarinya karena kesalahan mereka sendiri yaitu terlalu banyak bertanya hal-hal yang urusannya telah jelas.


Setelah bersusah payah mencari sapi betina, akhirnya mereka menemukan satu sapi betina yang dimaksud. Mereka lalu menyembelih sapi tersebut dan mengambil sebagian anggota badan sapi betina. Bagian tubuh sapi yang telah diambil itupun kemudian dipukulkan ke mayat korban pembunuhan. Maka biidznillah mayat itu hidup kembali. Ia pun ditanya, “Siapakah yang telah membunuhmu?”, Mayat itu menjawab, “Ini,” sambil menunjuk kepada keponakan seorang Bani Israil. Setelah urusannya selesai, maka mayat itu mati kembali.


Hikmah Kisah

Pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kisah tersebut?

1. Sebenarnya perintah Allah itu mudah dilaksanakan. Cukuplah bagi Bani Israil mencari seekor sapi betina lalu disembelih saja. Selesai urusan. Tetapi kaum Yahudi memiliki sifat tercela yaitu terlalu banyak bertanya.

2. Bertanya merupakan sikap terpuji jika kita tidak mengetahui sesuatu. Tapi bila terlalu banyak bertanya hal-hal yang sudah jelas sebagaimana kaum Yahudi, maka hal tersebut akan menyusahkan diri kita sendiri.

3. Apapun yang Allah perintahkan, tugas kita adalah sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami taat. Tak perlu terlalu banyak bertanya.
Semoga yang sedikit ini bermanfaat.


Barakallahu fiik.


Sumber: QS. Al Baqarah ayat 67-71 dalam tafsir Ibnu Katsir
Photo credit:
mejakomputer.com

Renita Oktavia
<p>Ibu dari seorang batita</p>
https://renitaoktavia.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back To Top