Renita Oktavia

I read so I write

Desember 21, 2018

Muslimah Berbisnis : antara Kewajiban, Adab, Kebutuhan dan Keinginan

Bismillah


Alhamdulillah hari ini, kita masih diberikan kesempatan untuk menghirup nafas yang merupakan nikmat Allah yang tiada tara. Juga dikarunai dua nikmat yg sering dilupakan oleh kita untuk disyukuri, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.


Islam Memandang Muslimah Berbisnis

Bisnis dalam Islam bukan sekedar untung dan rugi materi, namun juga tentang Surga dan Neraka. Tak etis rasanya, jika kita yang sudah berislam ini, membahas bisnis dari sisi material saja tanpa menimbang dari sisi syariat.
Muslimah, adalah perhiasan yang diciptakan Allah di dunya. Tanpanya bi idznillah, dunya seakan sunyi karena tiada mutiara berpendar dan bunga bersemi. Jika muslimah dihiasi dengan akhlak shalihah, maka ia lah sebaik-baik perhiasan dan seutama-tama harga yang wajib dijaga. Kebayang ga kalau perhiasan diumbar atau dibiarkan dilihat oleh orang-orang sekitar bahkan orang-orang asing ? Tentu, di dalam hati orang-orang yang melihatnya akan timbul rasa ingin memiliki. Maka berhati-hatilah dalam menjaga perhiasan tersebut.
Muslimah, adalah partner dan shahabat terbaik bagi suami. Sigaraning Nyawa (belahan jiwa) bagi suami. Tempat yang sejuk bagi suami untuk mencurahkan isi hatinya. Memanjakan pandangan suami karena keelokannya. Serta menolong suami dalam menyempurnakan separuh dien nya. Muslimah mampu menjadi motivator ulung bagi suami dan Khadijah sudah membuktikannya kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Muslimah juga mampu menghilangkan kegundahan pun kelelahan suami dalam konflik yang dihadapinya.
Muslimah juga sebagai madrasah terbaik bagi putra-putrinya. Betapa tidak, dari kelembutan dan kasih sayangnya ia mampu membekali diri anak-anaknya dengan bekal terbaik yaitu pendidikan islam dan ketaqwaan. Muslimah mampu mencetak generasi Rabbani, penjunjung panji dakwah Sunnah. Betapa banyak ulama-ulama dan mujahid-mujahid yang dilahirkan dan diasuh oleh Ibunda-ibunda shalihah.
Demikianlah jati diri muslimah. Perlu kita fahami agar kita menyadari posisi secara proporsional.
Berbisnis, adalah sebuah usaha menghasilkan value dari sebuah produk/ jasa dalam rangka menghasilkan profit. Berbisnis juga merupakan kumpulan dari permasalahan/ problem yang menuntut solusi. Jika kita sudah memilih berbisnis, maka kita dituntut bisa memberikan value dari sebuah produk/ jasa dan juga bisa memberikan solusi dari permasalahan yang kita hadapi selama berbisnis.
Value adalah sebuah nilai unik yang memberikan pembeda dari lainnya. Produk/ jasa bagi seorang pebisnis akan memberikan sebuah value dan diferensiasi.
Permasalahan bisnis yang sering dihadapi dimulai dari menentukan visi misi, desain sistem/ alur kerja, rekrutmen karyawan, mengelola karyawan, permodalan, mengelola uang, produksi, supplier, customer service dan permasalahan lainnya yang masig-masing membutuhkan solusi.
Kemudian sebagian mungkin akan bertanya, sebenarnya boleh ga sih muslimah berbisnis ?
Fatwa Syaikh bin Baz rahimahullah (ulama besar Kerajaan Saudi Arabia)
Memang bekerja adalah kewajiban seorang suami sebagai kepala rumah tangga, tapi Islam juga tidak melarang wanita untuk bekerja. Wanita boleh bekerja, jika memenuhi syarat-syaratnya dan tidak mengandung hal-hal yang dilarang oleh syari’at.
Syaikh Abdul Aziz Bin Baz mengatakan: 

“Islam tidak melarang wanita untuk bekerja dan bisnis, karena Allah Jalla wa’ala mensyariatkan dan memerintahkan hamba-Nya untuk bekerja, dalam firman-Nya:

“Katakanlah (wahai Muhammad), bekerjalah kalian! Maka Allah, Rasul-Nya, dan para mukminin akan melihat pekerjaanmu“  (QS. At-Taubah:105)

Perintah ini mencakup pria dan wanita. Allah juga mensyariatkan bisnis kepada semua hamba-Nya, karenanya seluruh manusia diperintah untuk berbisnis, berikhtiar dan bekerja, baik itu pria maupun wanita, Allah berfirman (yang artinya):

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang tidak benar, akan tetapi hendaklah kalian berdagang atas dasar saling rela diantara kalian” (QS. An-Nisa:29)”
Perintah ini berlaku umum, baik pria maupun wanita.
Akan tetapi…
AKAN TETAPI, wajib diperhatikan dalam pelaksanaan pekerjaan dan bisnisnya, hendaklah pelaksanaannya bebas dari hal-hal yang menyebabkan masalah dan kemungkaran. Dalam pekerjaan wanita, harusnya tidak ada ikhtilat (campur) dengan pria dan tidak menimbulkan fitnah. Begitu pula dalam bisnisnya harusnya dalam keadaan tidak mendatangkan fitnah, selalu berusaha memakai hijab syar’i, tertutup, dan menjauh dari sumber-sumber fitnah.
Karena itu, jual beli antara mereka bila dipisahkan dengan pria itu boleh, begitu pula dalam pekerjaan mereka. Yang wanita boleh bekerja sebagai dokter, perawat, dan pengajar khusus untuk wanita, yang pria juga boleh bekerja sebagai dokter dan pengajar khusus untuk pria. Adapun bila wanita menjadi dokter atau perawat untuk pria, sebaliknya pria menjadi dokter atau perawat untuk wanita, maka praktek seperti ini tidak dibolehkan oleh syariat, karena adanya fitnah dan kerusakan di dalamnya.
Bolehnya bekerja, harus dengan syarat tidak membahayakan agama dan kehormatan, baik untuk wanita maupun pria. Pekerjaan wanita harus bebas dari hal-hal yang membahayakan agama dan kehormatannya, serta tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan moral pada pria. Begitu pula pekerjaan pria harus tidak menyebabkan fitnah dan kerusakan bagi kaum wanita.
Hendaklah kaum pria dan wanita itu masing-masing bekerja dengan cara yang baik, tidak saling membahayakan antara satu dengan yang lainnya, serta tidak membahayakan masyarakatnya.
Kecuali dalam keadaan darurat, jika situasinya mendesak seorang pria boleh mengurusi wanita, misalnya pria boleh mengobati wanita karena tidak adanya wanita yang bisa mengobatinya, begitu pula sebaliknya. Tentunya dengan tetap berusaha menjauhi sumber-sumber fitnah, seperti menyendiri, membuka aurat, dll yang bisa menimbulkan fitnah. Ini merupakan pengecualian (hanya boleh dilakukan jika keadaannya darurat). 
Adab Muslimah dalam Berbisnis/ Bekerja


Ada hal-hal yang perlu diperhatikan, jika istri ingin berbisnis/bekerja, diantaranya:

1. Bisnis/ pekerjaannya tidak mengganggu kewajiban utamanya dalam urusan dalam rumah, karena mengurus rumah adalah pekerjaan wajibnya, sedang pekerjaan luarnya bukan kewajiban baginya, dan sesuatu yang wajib tidak boleh dikalahkan oleh sesuatu yang tidak wajib.
2. Harus dengan izin suaminya atau mahramnya, karena istri wajib mentaati suaminya sehingga tetap menjadi penyejuk pandangan suami.
3. Menerapkan adab-adab Islami, seperti: Menjaga pandangan, memakai hijab syar’i, tidak memakai wewangian, tidak melembutkan suaranya kepada pria yang bukan mahram, tidak bermudah-mudahan memasang foto wajah di social media apalagi yang dikaruniai keelokan wajah karena bisa mengundang fitnah bagi kaum adam, tidak juga chatting dengan lawan jenis di luar konteks bisnis (chatting seperlunya saja, sebaiknya anda membuat daftar pertanyaan dan jawaban atau biasa disebut FAQ = Frequently Asked Question yaitu pertanyaan yg sering ditanyakan beserta jawabannya, sehingga jika harus chatting dengan lawan jenis, tinggal copas saja tanpa emoticon dan tanpa bahasa yg lembut)
4. Pekerjaannya sesuai dengan tabi’at wanita, seperti: mengajar, dokter, perawat, penulis artikel, buku, bisnis pakaian muslimah, bisnis katering dan bisnis2 lainnya selama tidak mengeluarkan wanita dari fitrahnya.

5. Tidak ada ikhtilat di lingkungan kerjanya. Hendaklah ia mencari lingkungan kerja yang khusus wanita, misalnya: Sekolah wanita, perkumpulan wanita, kursus wanita, komunitas wanita, dll
6. Hendaklah mencari dulu pekerjaan yang bisa dikerjakan di dalam rumah. Jika tidak ada, baru cari pekerjaan luar rumah yang khusus di kalangan wanita. Jika tidak ada, maka ia tidak boleh cari pekerjaan luar rumah yang campur antara pria dan wanita, kecuali jika keadaannya darurat atau keadaan sangat mendesak sekali, misalnya suami tidak mampu mencukupi kehidupan keluarganya, atau suaminya sakit, dll.


Semoga kita bisa menjadi seorang Muslimah yang senantiasa taat kepada Rabb kita. Aamiin Allahumma Aamiin.


*Artikel ini juga sekaligus bantahan bagi kaum feminis kurang piknik yang senantiasa menganggap Islam memarjinalkan kaum wanita.


Diolah dari:
Kajian Bisnis Group WhatsApp Tarbiyatun Nisaa’ Salatiga


Barakallahu fiik


***
Photo credit:
creativemarket.com

SHARE:
Adab 11 Replies to “Muslimah Berbisnis : antara Kewajiban, Adab, Kebutuhan dan Keinginan”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

11 thoughts on “Muslimah Berbisnis : antara Kewajiban, Adab, Kebutuhan dan Keinginan

    Author’s gravatar

    Terima kasih ilmunya mbak. Jangan sampai busines juga dijadikan alasan untuk berbuat sesuatu yang dilarang ya ? Misalnya : ada udang di balik batu tapi kemudian mengatakan " hanya teman business " sebagai alasan 🤣🤣🤣🤣

    Author’s gravatar

    wah makasi pencerahannya, mba.

    numpang curhat dikit. toko obatku gulung tikar. karena aku ga fokus jaga toko. lebih mentingin anak2 di rumah drpada lama di toko 😀

    tapi aku ga nyesel n suami jg maklumin. ini pilihan. kalo mau bisnis toko obatku sukses, waktu bareng keluarga yg dikorbanin dan itu ga mau aku lakukan 🙂

    Author’s gravatar

    Curhat banyak jg gpp mbak Inna 😁😁

    Keluarga memang selalu menjadi prioritas ya mbak, uang mah Insya Allah bisa dicari dan rejeki juga bukan berupa uang, anak2 yang shalih dan shalihah juga rejeki yang nggak ada bandingannya.

    💐💐

    Author’s gravatar

    trima kasih untuk reminder nya…lingkungan kerjaku agak sulit untuk nyari yang isinya hanya wanita. tetapi semoga tetap selalu ingat dgn batasan2 syari seperti yg udah mbak bagikan disini

    Author’s gravatar

    Sama-sama mbak Ria 😘😘

    Selama masih dalam batasan syariat, Insya Allah gpp.

    Terima kasih sudah berkunjung dan berkomentar ya mbak 💗💗

    Author’s gravatar

    Terima kasih banyak mbak ilmunya. 🙂 sebelumnya saya bekerja di sebuah bank, akhirnya berhenti karena ingin fokus mengurus keluarga. Setelah berhenti, alhamdulillah Allah tetap mencukupi keluarga kami (dan malah memberi lebih^^). Keinginan buat aktualisasi diri pun ternyata tetap bisa terakomodir melalui ngeblog dan nulis, meskipun saya di rumah.

    Author’s gravatar

    Masyaallah ilmunya, tulisannya sungguh bermakna bGi kami irt yg butuh pencerahan

    […] boleh kok bekerja dari rumah asalkan tetap memperhatikan adabnya (baca adab Muslimah berbisnis disini). Wanita juga tetap bisa menjalankan ibadah di dalam rumah seperti shalat, berdzikir, membaca […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *