Renita Oktavia

I read so I write

Desember 10, 2018

A Letter from A Daughter

Bismillah


Tema blog challenge di hari ke sembilan belas sebenarnya adalah 10 Lagu yang Ada di Playlist”. Berhubung saya sekarang alhamdulillah tidak lagi mengoleksi lagu, maka saya ganti dengan tema yang lain.




πŸ€πŸ€πŸ€

Dear Bapak dan Ibuk rahimahumullah,


Bapak, Ibuk, semoga bapak dan ibuk dalam keadaan yang lapang dan berbahagia di sana. Semoga Allah Ta’ala memberikan nikmat kubur tak terhingga untuk bapak dan ibuk. Aamiin.
Pak, buk, alhamdulillah di sini aku tak kekurangan sesuatu apapun. Cinta dan doa yang dulu mengalir deras untukku dari bibirmu yang mulia, sungguh senantiasa  aku rasakan setiap detik, tak berkurang sedikitpun.


Buk, alhamdulillah berkat doamu, kini aku memiliki seorang putra yang Masya Allah cerewetnya seperti diriku dulu waktu masih kecil. Melihatnya sama seperti melihat diriku sendiri. Aku terkadang lelah, buk tapi aku ingat betapa ibuk dulu juga sama lelahnya denganku. Ibuk dulu tak pernah menyerah dengan rasa lelah dan penat berjibaku dengan pekerjaan dan juga mendidikku.


Buk, aku membutuhkan bahu dan pelukanmu. Aku rindu semua nasehatmu dan semua ‘nyanyian’ mu yang dulu mungkin membuatku kesal. Aku tahu dulu aku sangat menjengkelkanmu, buk. Ibuk bahkan harus selalu mengingatkanku untuk makan.


“Kamu harus makan biar bisa beribadah sama Allah. Kamu juga harus makan biar nggak sakit, sakit itu nggak enak,” kata-kata ibuk masih terngiang.


Pun saat aku suka mengakhirkan waktu shalat.


“Shalat di awal waktu itu lebih baik. Kita nggak pernah tahu kapan kita mati. Kalau kita mati dalam keadaan belum shalat, rugi!”


Buk, aku masih ingat saat ibuk datang ke kamarku dengan mata berkaca-kaca karena ibuk tak ingin berpisah denganku.


“Nduk, nanti kalau kamu ikut suamimu, kalau kamu sakit, siapa yang akan ngurusi kamu? Kalau ibuk kangen, ibuk harus gimana?” 

Tangismu pecah, bukan…bukan hanya tangismu, tapi juga air mataku. Dan kita pun berpelukan.


Ibuk, terasa sakitkah dadamu saat tahu aku harus pergi meninggalkanmu? Tak bisakah ibuk hidup tanpa diriku saat itu hingga ibuk memilih ‘berangkat’ dulu sebelum keberangkatanku? Lalu bagaimana dengan diriku yang kini harus menahan sakit karena kehilanganmu, buk?


Dan bapak…


Bapak, aku tahu kita sama-sama terluka kehilangan ibuk. Aku tahu bapak sangat menyayangi ibuk sampai-sampai bapak tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa bercerita tentang ibuk. Tapi aku tak pernah sedikitpun berasa bosan mendengar ceritamu.


Bapak, orang bilang “Dad’s a daughter’s first love”. Sepertinya memang benar. Aku ingat saat aku masih sangat kecil, aku selalu menyambut kepulanganmu dari kantor. Kaki mungilku selalu berlari ke arahmu. Lalu engkau menggendongku sambil membawakan jajan kesukaanku.


Bapak, kepada siapakah kini aku harus menyandarkan kepalaku? Sedangkan bahumu adalah tempat terbaik yang pernah kumiliki. Kata-katamu yang selalu membesarkan hatiku, tak sedikitpun lekang dalam ingatanku.


Bapak, maafkan putri kecilmu ini yang tak mampu menemanimu di saat-saat terakhir.


Bapak… Ibuk… Hatiku teramat sakit karena merindukanmu. Hatiku lelah menanggung semua tanpa kehadiranmu. Aku bahkan tak bisa membendung bulir-bulir hangat di mataku saat menuliskan ini.


Aku lelah, pak, buk. Namun aku berusaha untuk bersabar hingga tiba saatnya bagiku bersamamu. Tinggal sedikit lagi kan pak? Aku hanya perlu bertahan sedikit lagi kan buk? Dan dalam masa penantian ini, selagi ada waktu, aku ingin mempersembahkan yang terbaik untukmu.


Bapak, ibuk…
Semoga Allah memberikan rahmat, kasih sayang, dan ampunan buatmu. 
Semoga Allah membersihkan kesalahan-kesalahan kalian sebagaimana pakaian putih yang dibersihkan dari kotoran. 
Semoga Allah menyucikan kalian dengan air, salju, dan embun. 
Semoga Allah menjaga kalian dari siksa kubur dan juga siksa api neraka. 
Semoga Allah membangunkan buat kalian, rumah di sisi Allah di surga-Nya. Dan semoga Allah mengumpulkan kita semua di surga-Nya. Aamiin Allahumma Aamiin.

πŸ’—πŸ’—πŸ’—
Barakallahu fiik
Photo credit:
instagram.com/ Jane Morley

SHARE:
BPN30dayChallenge2018 One Reply to “A Letter from A Daughter”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

One comment on “A Letter from A Daughter

    […] Sepucuk surat yang pernah kutuangkan pun rasanya takkan cukup mewakili perasaanku. Seperti ada sesuatu yang tiba-tiba saja hilang dari hidupku. It feels like there’s a missing piece of puzzle within my heart. Sesuatu yang selama ini membuatku sangat nyaman, apalagi kalau bukan kehadiran kedua orang tuaku. Betapa diri ini menginginkan sebuah nasehat dari mereka, sebuah pelukan hangat kala gelisah melanda, sebuah motivasi kala diri ini ingin menyerah. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *