November 20, 2018

Sebab Cinta Membutuhkan Pembuktian

Bismillah


Sobat, kita tentu sepakat bahwa yang namanya mencintai itu butuh suatu pembuktian. Mencintai di sini, bukan hanya terbatas cinta antara laki-laki dan perempuan, tapi bisa juga kasih sayang antara orang tua dengan anak, atau kasih sayang dengan teman dan sahabat.


Kita tidak bisa dengan mudahnya berkata, “Aku mencintaimu” kepada pasangan kita. Bisa-bisa kita dibilang “Halah gombal, cuman ngomong doank. Mana buktinya?” Uhuk…. Atau ketika kita bilang ke orang tua kita, “Daddy, Mommy, I love you”, tapi nyatanya kita selalu mengecewakan keduanya dan tidak pernah mendengar nasehatnya.


Begitu pula bagi para pluviophile. Mereka yang mengaku pecinta dan penikmat hujan, menyebut dirinya dengan pluviophile. Dalam Collins Dicionary disebutkan bahwa pluviophile is a lover of rain;someone who finds joy and peace of mind during rainy days. Jadi ini semacam keadaan psikologis dimana para pluviophile akan merasa sangat damai dan tenang ketika turun hujan. Mereka pun tak segan untuk bermain air hujan tatkala orang lain memilih untuk berteduh.


Kecintaan pluviophile pun butuh pembuktian. Jangan sampai ketika mengaku sebagai seorang pluviophile, kita justru tidak menyukai berbasah-basahan ketika hujan turun. Kita mengaku menyukai hujan tapi kita malah memakai payung tatkala turun hujan. Pernah membaca quote ala Bob Marley yang isinya seperti ini?


You say you love rain, but you use an umbrella to walk under it. You say you love sun, but you seek shelter when it is shining. You say you love wind, but when it comes you close your windows. So that’s why I’m scared when you say you love me.


Nah, Sobat, sebagai seorang Muslim, hal yang sama juga berlaku untuk rasa cinta yang kita tujukan untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Betapa banyak dari ummat ini yang mengaku mencintai Beliau, tapi tak sedikit pula yang tidak bisa membuktikannya.

Saya pernah merasa tergelitik ketika membaca salah satu postingan di salah satu digital platform. Ia menuliskan surat cinta terbuka untuk Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Postingan itupun dibanjiri komentar dan viewers. Pertanyaannya adalah apakah harus berbuat demikian jika ingin menunjukkan bukti kecintaan kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam? Ataukah harus merayakan hari lahir Beliau sebagai wujud cinta?

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya),

“Tidaklah sempurna iman salah seorang dari kalian, hingga ia lebih mencintaiku daripada orangtuanya, anaknya dan seluruh manusia” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).


Sobat, cinta akan membuat seseorang tunduk dan patuh terhadap orang yang dicintainya. Demikian pula dengan cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Allah Ta’ala sendiri berfirman (yang artinya),

“Barangsiapa yang menaati Rasul, maka sesungguhnya dia telah menaati Allah.” (An Nisa: 80)


Jelas sudah bahwa jikalau kita bermaksiat kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka sama artinya dengan kita telah bermaksiat kepada Allah Ta’ala.
Cinta Ibarat Tali yang Kuat

Mengapa demikian? Karena memang hanya cinta lah yang dapat mengaitkan hati kita dengan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Rasa cinta yang tulus kepada Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mampu membawa kita kepada kebahagiaan di dunya dan akhirat.
“Dan barangsiapa yang menaati Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. Demikianlah kemenangan yang besar.” (An Nisa: 13)


Cinta, ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan adalah satu paket yang tidak akan pernah bisa dipisahkan. Bagaimana mungkin seseorang mengaku cinta tapi ia tidak patuh pada apapun yang diminta sang kekasih? Bagaimana mungkin seseorang mengaku mencintai ayah dan ibunya sedangkan ia sendiri selalu mengabaikan perintah dan larangan kedua oraag tuanya?
Semakin tinggi rasa cinta, maka semakin tinggi pula tingkat kepatuhan dan ketaatan kita. Sebaliknya, semakin rendah rasa cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam maka semakin rendah pula tingkat ketundukan kita ketika dihadapkan pada perintah dan larangan Beliau.
Bukti Cinta
Sebagaimana kita yang sangat menyayangi anak-anak kita, kita tentu akan mendidik dan mengayominya dengan sebaik mungkin. Kecintaan kita kepada rumah yang kita tempati, kita buktikan dengan menjaga dan membersihkannya. Lalu tatkala ada yang mengotori rumah kita, kita akan marah seketika. Maka demikian pula dengan wujud cinta kita kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Apa saja bukti cinta kita kepada Beliau?

1. Mutaba’ah (Mengikuti dan Menjalankan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam)

Awal tanda cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan mutaba’ah yaitu berpegang teguh dan mengikuti segala perkataan dan perbuatan Beliau. Orang yang mencintai Beliau adalah mereka yang menghidupkan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Diantaranya adalah dengan mengamalkan Sunnahnya, melaksanakan perintahnya, menjauhi segala larangan Beliau serta mendahulukan semua itu di atas hawa nafsu.

Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu berkata (yang artinya),

“Ikutilah (petunjuk Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam), janganlah membuat bid’ah. Karena (ajaran Nabi) itu sudah cukup bagi kalian. Semua amalan yang tanpa tuntunan Nabi (baca: bid’ah) adalah sesat”.  (Diriwayatkan oleh Ath Thobroniy dalam Al Mu’jam Al Kabir no. 8770. Al Haytsamiy mengatakan dalam Majma’ Zawa’id bahwa para perawinya adalah perawi yang dipakai dalam kitab shahih)

2. Banyak bershalawat
Sobat, kala kita sedang jatuh cinta, kita akan selalu terbayang wajah kekasih kita. Kita pun akan sering menyebut namanya. Hal yang sama juga berlaku jika kita mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tulus. Kita tentu akan lebih sering menyebut nama Beliau. Dengan apa? Yaitu dengan memperbanyak bershalawat untuk Beliau.

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya),

“Orang yang bakhil (pelit) adalah orang yang apabila namaku disebut di sisinya, dia tidak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani)
3. Mencintai dan memuliakan orang yang dicintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Siapa sajakah mereka? Mereka adalah para ahlul bait (kerabat Rasulullah ShallallahuAlaihi wa Sallam), istri-istri Beliau, para shahabat Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


Kita wajib menjaga hak-hak mereka setelah mereka wafat, kita juga diperintahkan bershalawat untuk mereka bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan mendoakan kebaikan untuk mereka.
Janganlah seperti kaum Syi’ah Rafidhah yang gemar mencela dan menghina para Shahabat, karena Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya),

“Janganlah kalian mencela para sahabatku. Demi Allah, seandainya salah seorang kalian berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tidak akan menyamai satu mud mereka dan tidak pula separuhnya”.

4. Membenci orang yang dibenci oleh Allah dan Rasul-Nya
Maksudnya adalah kita diperintahkan untuk memusuhi orang yang memusuhi Allah dan Rasul-Nya, tidak menolong para musuh Allah, serta menjauhi orang yang menyelisihi syari’at. Kita wajib memusuhi karena Allah dan kita pun wajib loyal karena Allah.


5. Rindu Bertemu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam
Perasaan cinta tentu datang bersamaan dengan rasa rindu. Saat kita mencintai pasangan kita, lalu terpisah jauh, bukankah kita akan merasa rindu untuk bertemu? Segala macam rintangan akan kita tempuh meski harus mengorbankan harta benda kita. Demikian pula jika kita mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda (yang artinya),

“Di antara umatku yang paling mencintaiku adalah, orang-orang yang hidup setelahku. Salah seorang dari mereka sangat ingin melihatku, walaupun menebus dengan keluarga dan harta”. (HR. Muslim)


Proporsional dalam Mencintai
Sobat, kita tentu tahu bahwa segala sesuatu yang berlebihan, hasilnya tidak akan baik. Mencintai pun demikian adanya. Jika kita terlalu berlebihan dalam mencintai, kita akan kehilangan akal sehat. Akibatnya, siapa yang rugi? Diri kita sendiri.


Para Shahabat mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan cinta yang proporsional, artinya tidak berlebihan, atau bisa dibilang pertengahan. Mengapa kita tidak boleh mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam secara berlebihan? Karena dikhawatirkan ekspresi cinta kita yang melebihi batas akan melampaui batas syar’i. Akibatnya hal tersebut akan mendorong kita melakukan ritual-ritual yang sama sekali tidak dicontohkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, misalnya perayaan Maulid Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dengan dalih wujud cinta kepada Beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.


Memperingati hari lahir Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah salah satu bentuk ritual ibadah yang tidak dilakukan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para Shahabat. Jika memang perbuatan itu baik, maka tentu para Shahabat radhiyallahu ‘anhum akan melakukannya. Tapi nyatanya? Mereka tidak melakukannya, Sobat.


Apa yang bisa kita simpulkan tentang pelajaran cinta hari ini? Bahwa pembuktian cinta kepada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah dengan ittiba’ kepada Beliau. Bukan dengan perayaan atau ibadah yang tidak Beliau contohkan. Pun bukan dengan menulis surat terbuka dengan diksi aduhai seolah ingin seluruh penduduk bumi mengetahui bahwa ia mencintai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, sementara ia sendiri berkubang dalam bid’ah.

Proporsional lah dalam mencintai. Pun dalam membuktikannya.


Semoga bermanfaat.


Barakallahu fiik


Referensi:
1. Aplikasi Almanhaj.or.id
2. Muslim.or.id/cinta sejati kepada sang nabi
🌾🍃🌾🍃

SHARE:
Bukti Cinta 0 Replies to “Sebab Cinta Membutuhkan Pembuktian”