Renita Oktavia

I read so I write

Oktober 31, 2018

Lentera Sirah: Dari Seorang Penggembala Menjadi Ahli Qur’an

Abdullah bin Mas'ud
Bismillah
Syahdan, ada seorang penggembala kambing milik seorang pembesar di kota Mekkah. Seperti biasanya ia mengurus kambing-kambingnya di tengah perbukitan dan lembah. Dari kejauhan, ia melihat dua orang laki-laki setengah tua yang tampak berwibawa, datang menghampirinya. Mereka terlihat lelah dan kehausan.  Mereka berdua pun lantas mengucap salam dan berkata, “Wahai pemuda, perahlah untuk kami, susu dari kambing-kambing ini untuk mengobati haus dan membasahi kerongkongan kami.”
Pemuda itu berkata, “Maaf, Tuan. Kambing-kambing ini bukan milikku. Aku hanya dipercaya untuk mengurusnya.”
Kemudian salah satu dari laki-laki tersebut berkata, “Bisakah kau tunjukkan kepada kami seekor kambing yang belum pernah mengeluarkan susu?”
“Baiklah, akan aku tunjukkan.” Pemuda itu pun menunjuk kambing kecil yang dekat dengannya. Laki-laki tadi menangkap kambing tersebut, lalu mengusap kantung susunya sambil menyebut asma Allah. Pemuda itu berkata dalam hati, “Mana bisa seekor kambing kecil yang belum pernah mengalir susunya dapat mengeluarkan susu”. Namun, tak lama kemudian, atas izin Allah, kantung susu kambing itu membesar dan laki-laki tersebut memerah susunya. Laki-laki yang satunya membawa batu yang berlubang lalu memenuhinya dengan susu. Kemudian mereka meminumnya bersama pemuda tersebut. Sementara itu, sang pemuda keheranan dengan apa yang dilihatnya. Setelah mereka puas meminum susu, laki-laki yang tampak diberkahi tersebut berkata kepada kantung susu, “Mengempislah wahai kantung susu.” Biidznillah, kantung susu itupun mengempis seperti semula.
Sang pemuda lantas berkata kepada laki-laki tadi, “Wahai Tuan, apa yang engkau bacakan tadi? Ajarkanlah aku tentang perkataan itu.” Laki-laki yang diberkahi itu menjawab, “Sesungguhnya engkau adalah pemuda yang mendapatkan pengajaran.”
***
Sobat, tahukah kalian siapa pemuda tersebut? Dia adalah Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu. Dan lelaki yang diberkahi itu adalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sedangkan lelaki satunya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu.
Inilah awal pertemuan Abdullah bin Mas’ud dengan Sang Mahaguru, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dimana ia mendapatkan ilmu dan pengajaran yang sangat besar dari Beliau.
Setelah bersyahadat, Abdullah bin Mas’ud menjadi orang yang sangat gigih mempelajari Islam dari sisi Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Ia bahkan menjadi pelayan Rasulullah, menemani Beliau kemana pun Beliau pergi, seakan-akan ia seperti bayangan yang selalu mengikuti pemilik bayangan tersebut.
Ia bersama Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam muqim dan safarnya, di dalam maupun di luar rumahnya, membangunkannya ketika Beliau tidur, dan membawa tongkat serta siwak Beliau. Ia yang masuk ke kamar Nabi terlebih dulu  bila Beliau akan ke kamarnya, ia pula yang selalu menjaga sepasang sandal Beliau, memakaikannya ketika akan keluar dan mencopotnya ketika Beliau akan masuk ke dalam rumah. Itu semua ia lakukan agar ia terus mendapatkan curahan ilmu dan barokah membersamai Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Hingga akhirnya sepeninggal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ia menjadi salah seorang tokoh ulama ahli ilmu fiqih di kalangan para shahabat. Hingga banyak orang melakukan perjalanan jauh hanya untuk menimba ilmu darinya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah berkata tentang bacaan Qur’an Abdullah bin Mas’ud, “Barangsiapa ingin membaca Al-Qur’an sebagaimana ia diturunkan, maka hendaklah ia membaca seperti bacaan Ibnu Mas’ud”.
Abdullah bin Mas’ud pernah berkata, “Demi Allah yang tidak da Tuhan selain Dia, tidak ada satu ayat pun di dalam Al-Qur’an melainkan aku mengetahui tentang apa ayat itu turun dan dimana ia diturunkan. Seandainya aku tahu bahwa ada orang yang lebih berilmu daripada aku tentang Kitabullah, pastilah aku akan mendatanginya selama untaku dapat sampai kepadanya.”
Ibnu Mas’ud pun pernah berkata, “Dahulu, seorang di antara kami, apabila ia telah mempelajari sepuluh ayat maka ia tidak akan beralih kepada ayat lainnya sampai ia benar-benar mengetahui maknanya daa mengamalkannya.”
Masya Allah.
Sobat, itulah semangat shahabat Abdullah bin Mas’ud dalam mencari ilmu agama. Bagaimana dengan kita?
Hikmah apa yang bisa kita gali dari kisah tersebut?
1. Bersemangatlah dalam menuntut ilmu, terutama ilmu agama. Contohlah Abdullah bin Mas’ud bagaimana ia dengan semangat membara mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dimanapun Beliau berada. Tujuannya hanya untuk memperoleh ilmu dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Bahkan Ibnu Mas’ud dengan senang hati menjadi pelayan Nabi.
2. Jangan malu untuk bertanya tentang ilmu (yaitu ilmu agama). Ketika Ibnu Mas’ud keheranan melihat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bisa memerah air susu dari seekor kambing kecil, maka iapun bertanya apa yang diucapkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Kemudian ia minta diajari ilmu dari Beliau.
3. Jangan lupa untuk mengamalkan ilmu yang sudah dipelajari, seperti oara shahabat dahulu yang tidak mau beralih belajar sebelum mereka mengamalkan ilmu yang telah mereka pelajari.
Semoga kita senantiasa menjadi pribadi yang haus akan ilmu agama. Aamiin.
Barakallahu fiik
🍂🍁🍂🍁
Salatiga, 12 Shafar 1440/ 21 Oktober 2018
SHARE:
Kisah 2 Replies to “Lentera Sirah: Dari Seorang Penggembala Menjadi Ahli Qur’an”
Renita Oktavia
Renita Oktavia
A keep-learning mommy. A wife. A chocolate lover. A coffee addict. You can reach me on renita.oktavia.blog@gmail.com

COMMENTS

2 thoughts on “Lentera Sirah: Dari Seorang Penggembala Menjadi Ahli Qur’an

    Author’s gravatar

    postingan setahun yang lalu ya mba…tapi sangat bermanfaat

    Author’s gravatar

    Alhamdulillah, terima kasih kak daya dapat ilmu baru😃

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *